Tahun ini sayurankita mandapatkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam acara BeYoung Art Camp #3 yang diadakan oleh Yayasan Pasirputih. Beyoung Art Camp merupakan acara tahunan yang diinisiasi oleh pasirputih khusus remaja sebagai ruang untuk menggali isu-isu terkini dan potensi-potensi yang dimiliki oleh remaja. Di tahun ketiga ini, Beyoung Art Camp diadakan di Kampung Wisata Kerujuk, Dusun Kerujuk, Pemenang Barat mulai tanggal 22 sampai 26 September 2017 yang diikuti oleh beberapa sekolah di Lombok.

Dalam kegitan Beyoung Art Camp #3 ini, Sayurankita menjadi fasilitator di salah satu kelas kreatif yaitu salah satu ruang yang bertujuan untuk meningkatkan kreativitas dan keterampilan tertentu. Di kelas kreatif ini, sayurankita mengambil tema “Identifikasi Tanaman Pangan” untuk menjawab dari tema yang diusung Beyoung Art Camp #3 “”Darah Muda, Darah Berkarya” yang mengharapkan peserta Beyoung Art Camp dapat menggali ruang dan potensi yang dimilikinya serta dapat berkarya secara partisipatif, kolaboratif dan kolektif. Sayurankita menganggap penting bagi remaja untuk mengenal jenis-jenis tanaman pangan yang ada di lingkungan sekitar tempat tinggal mengingat isu pangan-pertanian yang mulai ditinggalkan oleh remaja meskipun remaja-remaja tersebut berada dan hidup di lingkungan pertanian, penghasil pangan. Kelas kreatif ini merupakan kesempatan bagi sayurankita untuk berbagi dan bertukar informasi tentang pangan dan budaya pertanian (pangan) yang ada di Lombok.

Dalam kelas tersebut, peserta tidak hanya menyebutkan nama tanaman, tetapi sayurankita juga mengajak peserta untuk mengetahui ciri-ciri tanaman, cara perkembangbiakan, bagian-bagian yang dimanfaatkan serta cara pengolahannya. Selain itu, juga dilakukan sesi diskusi dengan petani-petani yang mereka temui di sawah di sekitar lokasi kemping.

Para peserta kelas kreatif tengah menerima materi dari Afifah Farida (Sayurankita)

Kelas kreatif “Identifikasi Tanaman Pangan” diikuti oleh 4 peserta (Syarif,  Jaya, Eki, Azril) dari 4 sekolah yang berbeda. Sebelum berjalan mengelilingi Kampung Wisata Kerujuk untuk mengidentifikasi tanaman, peserta berdiskusi untuk menggali lebih dalam tentang pangan dan pertanian. Dalam diskusi itu, Afifah (perwakilan Sayurankita) memulai diskusi dengan pertanyaan “ada yang suka bertani?”. Dari 4 peserta, 3 orang menyukai bertani bahkan mereka memiliki tanaman dan ternak di rumahnya, seperti cabai, tomat, terong dan ayam. Selanjutnya diskusi mengalir bertukar pikiran tentang bagaimana merawat tanaman, membasmi hama dan penyakit, dan profesi petani yang mulai ditinggalkan. Menurut para peserta salah satu alasan profesi petani mulai ditinggalkan adalah karena ekonomi petani yang tidak membaik, sedangkan orangtua berharap anaknya memperoleh kehidupan yang lebih baik sehingga petani bukan menjadi profesi yang diutamakan. Namun peserta sepakat jika profesi petani hilang, maka manusia akan mengalami masalah dalam pemenuhan kebutuhan makanan.

Setelah berdiskusi panjang tentang pertanian, Afifah mengajak peserta untuk berkeliling kampung wisata Kerujuk untuk bertemu dengan petani dan mengidentifikasi tanaman pangan yang ada di sekitar kampung tersebut. Peserta berdiskusi dengan petani tentang kegiatan-kegiatan pertanian yang sedang dilakukan. Peserta juga menggambar bentuk daun, batang dan buah serta menuliskan manfaat dari tanaman yang ditemukan. Hasil diskusi dan identifikasi tersebut akan dipersentasikan dan didiskusikan bersama-sama.

Setelah istirahat makan siang, peserta kelas kembali berkumpul untuk mempresentasikan hasil diskusi dan identifikasi tanaman. Persentasi pertama dimulai dari Eki yang menceritakan tentang pedagang pelecing kangkung disekitar kampung wisata kerujuk. Pedagang pelecing menggunakan kangkung rawa sebagai bahan utama pelecing kangkung. Kangkung rawa diperoleh dari petani di sekitar kampung Kerujuk. Dari hasil diskusi Eki dengan pedagang tersebut, dapat diketahui perbedaan antara kangkung rawa dan kangkung darat dimana kangkung rawa memiliki batang dan daun yang lebih besar daripada kangkung darat dan rasa kangkung rawa lebih manis dan renyah daripada kangkung darat sehingga untuk bahan dasar pelecing digunakan kangkung rawa. Selain itu karena kangkung rawa masih sangat mudah ditemui di Lombok, hampir setiap petani memiliki sepetak lahan untuk menanam kangkung rawa yang tidak membutuhkan perawatan khusus seperti kangkung darat. Hal lain yang ditemui Eki adalah penyajian pelecing kangkung menggunakan opak (kerupuk ubi yang dibakar). Menurut Syarif, penyajian pelecing menggunakan kerupuk tersebut tidak ditemukan di Lombok Timur. Eki mengaku belum mengetahui alasan mengapa penyajian pelecing kangkung di Pemenang menggunakan opak. Opak dibuat dari singkong yang digiling kemudian dicetak tipis, dikeringkan kemudian di bakar.

salah satu peserta mulai mengidentifikasi tanaman

Setelah bercerita tentang pelecing kangkung, Eki menjelaskan tentang tanaman yang ditemuinya yaitu kelapa, pisang, singkong, bambu dan pohon aren. Dari tanaman-tanaman itu, eki menjelaskan bahwa batang pisang dan bambu yang masih muda dapat dimakan. Batang pisang muda dikenal dengan ares sedangkan batang bambu muda dikenal dengan rebung. Selain itu, batang pohon aren juga dapat dikonsumsi yang sebelumnya diolah menjadi tepung.

Persentasi dilanjutkan oleh Azril yang bercerita tentang petani yang sedang membajak sawah. Selain petani sawah, pak Darno – nama petani yang ditemui- juga seorang peternak sapi. Pak Darno menanam padi dengan benih yang dihasilkan sendiri.  Sawah pak Darno dilewati oleh aliran air sungai sehingga sawahnya dapat ditanami padi sebanyak dua kali. Sebelum ditanam, sawah dibajak menggunakan sapi yang dimilikinya. Hasil panen yang diperoleh disimpan untuk stok beras keluarga. Eki berpendapat bahwa lebih baik hasil padi tersebut dijual sehingga diperoleh uang, sedangkan Syarif berpendapat lebih baik hasil padi tersebut disimpan menjadi stok beras sehingga tidak perlu lagi membeli beras. Berbeda dengan pendapat dua teman lainnya, Jaya berpendapat bahwa hasil padi yang diperoleh disimpan sebagian untuk kebutuhan keluarga dan sebagian lagi di jual untuk mendapatkan uang agar bisa memenuhi kebutuhan yang lain.

Pendapat-pendapat tersebut sama baiknya karena tujuannya sama yaitu untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dan pada akhirnya, mereka sepakat bahwa hasil panen sebaiknya disimpan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sampai musim berikutnya agar pemenuhan beras tidak lagi tergantung dengan pasar, dan jika hasil panen melebihi kebutuhan keluarga maka hasil tersebut dapat dijual untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya. Mereka juga menyimpulkan bahwa menjadi petani tidak seharusnya kelaparan karena kekurangan bahan makanan yang mereka tanam. Setelah bertukar pikiran tentang padi tersebut, Azril melanjutkan persentasi identifikasi tanaman. Tanaman yang ditemuinya adalah pisang, kangkung, kelapa, singkong dan kemangi. Azril mengatakan bahwa kelima tanaman tersebut juga mudah ditemui di lingkungan rumahnya. Kemangi digunakan untuk menghilangkan bau amis dan sering digunakan sebagai lalapan atau sebagai bahan penyedap.

Syarif tengah mewawancarai petani daun mint di Ekowisata Kerujuk

Selanjutnya persentasi oleh Syarif yang bertemu dengan petani daun mint di lahan bekas sawah. Syarif menemukan bahwa pilihan pak Suparman, petani yang memilih menanam mint karena permintaan mint di hotel tempat ia bekerja cukup banyak dengan harga jual yang cukup tinggi yaitu sekitar Rp. 30.000-35.000/kg. Pak Suparman melihat peluang tersebut sehingga sejak Juni 2017, pak Suparman mencoba menanam daun mint yang sampai saat ini sudah dapat di panen per dua hari. Dari pak Suparman, peserta dapat melihat sudut pandang yang berbeda dari petani pada umumnya, yaitu melihat pasar. Petani dapat mandiri dengan mencari pasarnya sendiri, tidak melulu harus menanam yang dicari oleh pengepul. Hasil identifikasi tanaman pangan oleh Syarif yaitu mint, bebele (antanan atau pegagan), pohon aren, singkong dan nanas. Dari kelima tanaman tersebut, yang menarik adalah tanaman bebele yang dapat ditemui dipinggiran sawah. Menurut Syarif, ibunya sering mengolah bebele menjadi urap bersama kacang panjang.

para peserta mempresentasikan hasil temuan mereka tentang indentifikasi tanaman pangan di Ekowisata Kerujuk.

Persentasi terakhir oleh Jaya yang bercerita tentang petani jambu mete yang ditemuinya saat memanen jambu mete. Jaya mendapatkan informasi bahwa harga biji jambu mete berkisar 23.000-25.000/kg tergantung musim. Dari petani mete ini, Jaya mengatakan bahwa yang sering dipanen dan memiliki harga jual yang cukup tinggi adalah biji mete, sedangkan buahnya seringkali tidak diolah dan dibuang begitu saja. Padahal, menurut Wirjo, salah satu voluntir yang mengikuti persentasi kelas Identifikasi Tanaman, buah jambu mete dapat diolah menjadi abon menggantikan daging karena seratnya yang kasar mirip daging. Selain menjadi abon, buahnya juga dapat diolah menjadi rujak. Seperti peserta yang lain, Jaya juga memaparkan tanaman yang ditemuinya di sekitar kampung Ekowisata Kerujuk. Tanaman yang menarik adalah vanili. Ternyata, peserta kelas belum mengetahui bentuk dan manfaat tanaman vanili sehingga Jaya mengajak peserta untuk langsung melihat tanaman vanili tersebut sambil memberikan penjelasan. Vanili merupakan tanaman yang menjalar, daunnya sejajar berwarna hijau gelap. Bagian yang dimanfaatkan adalah biji vanili yang diolah menjadi serbuk sebagai bahan pengharum makanan.

Dengan berakhirnya persentasi Jaya, maka kelas Identifikasi Tanaman  Pangan juga selesai. Dari kelas ini, kami (peserta dan fasilitator) sepakat bahwa menyadari ruang dan potensi-potensi yang ada disekitar kita (terutama tanaman pangan) dapat membantu dalam memenuhi kebutuhan pangan. Pengetahuan tentang manfaat tanaman lokal yang berada disekitar tempat tinggal (rumah) perlu kembali diidentifikasi mengingat tanaman-tanaman tersebut mulai dilupakan dengan adanya kemudahan akses memperoleh tanaman yang seragam. Jika tidak kembali dilestarikan, maka  keanekaragaman hayati tersebut akan hilang termasuk budaya memakan tanaman-tanaman lokal. Peserta kelas kreatif sepakat bahwa ini merupakan salah satu langkah kecil yang bisa dilakukan secara bersama-sama untuk menjaga pengetahuan dan kearifan lokal terhadap tanaman tersebut.