Pagi itu aku terbangun mendengar suara musik yang berisik dari luar tenda.   Semua peserta berkumpul di depan panggung utama, mereka berbaris rapi dan akupun keluar dengan mata sayu sedikit mengantuk, seketika itu aku mencuci muka lalu menghampiri mereka. Dari suara sound itu terdengar bahwa mereka akan melakukan senam pagi. Akupun tertarik dan turut semangat mengikuti senam yang dipandu oleh panitia. Tidak hanya panitia saja, peserta dan senimanpun juga turut serta diberikan kebebasan menjadi seorang pemandu senam.

Sembari musik dimulai, si pemandu menggerakkan tubuhnya, menggoyangkan badannya dan bergerak sesuka hatinya, membuat semua peserta senam itu mengikuti gerak tubuhnya. Dengan gerakan yang sembarangan dan gokil, membuat senam itu seakan menjadi hiburan yang mengundang tawa dan canda. Jelas, karena tidak hanya menyehatkan tubuh saja namun senam seperti ini dapat merefleksikan pikiran dan menenangkan perasaan.

Senam pagi acara di Beyoung Art Camp #3 dan Lingkar Seni Wallacea di Ekowisata Kerujuk

Selepas senam pagi, akupun pergi mengelilingi desa yang disebut sebagai Kampung Ekowisata Kerujuk, Dusun Kerujuk Desa Pemenang Barat, rasa penasaranku semakin kuat saja, yang membuat aku ingin mengetahui tentang apa saja yang ada di kampung ini. Selain dari taman dan wahana bermainnya yang masih tradisional itu. Aku bertanya pada beberapa warga sekitar yang mengatakan bahwa memang dahulu kampung itu terlihat biasa-biasa saja tanpa ada wahana yang bisa menarik para wisatawan, dan sekarang warga sudah bersatu membangun kampungnya menjadi kampung wisata dengan memanfaatkan bambu sebagai icon wisata mereka. Seperti yang dikatakan pak Lukman diwaktu acara pembukaan “kita menggunakan bambu sebagai icon kita karena bambu merupakan tumbuhan yang multifungsional, bisa digunakan dan dimanfaatkan menjadi apa saja.” Lukman adalah ketua kelompok sadar wisata yang biasa disebut (pokdarwis), ia mengatakan bahwa “menjaga alam itu sudah menjadi kewajiban kita karena alam merupakan sumber kehidupan manusia”.

Tenda yang di pergunakan untuk berlindung dari dinginnya suasana malam di tengah hamparan sawah kerujuk

Langkahku bergerak seakan tidak mau berhenti, mataku melirik kanan dan kiri, melihat pemandangan alam yang begitu asri yang dilengkapi dengan beberapa wahana bermain dan juga taman kreatif. Dari semua fasilitas itu dikerjakan secara lansung oleh masyarakat. dari beberapa inisiatif yang timbul ditengah-tengah masyarakat untuk membuat kampung tersebut menjadi tempat wisata, pada akhirnya warga dusun kerujuk bersama Pokdarwis secara bergotong royong membangu Ekowisata tersebut.

Lepas dari keindahan alamnya, adapun hal penting yang aku lakukan diacara Beyoung Art Camp dan Lingkar Seni Wallacea ini, yakni mengikuti symposium, persentasi publik peserta beyong, student voice, pertunjukan seni (music, puisi, teater).

Pentas kreasi di panggung kreasi Beyoung dan LSW.

Sabtu, 23 September 2017 pukul 09.00 pagi aku menghadiri persentasi publik peserta Beyoung Art Camp #3. Dalam acara itu peserta perwakilan dari tiap sekolah dan juga komunitas menceritakan problematika persoalan remaja yang mereka temukan di tempat mereka, mulai dari persoalan ekonomi, sosial, budaya, serta isu-isu yang marak terjadi dikalangan remaja saat ini. Di acara ini peserta didampingi oleh tiga fasilitator acara diantaranya yakni Hamdani, Rusli dan Wulan. Ketiga fasilitator tersebut menampung beberapa persoalan dan isu-isu yang disampaikan oleh peserta dan memecahkan permasalahan tersebut sekaligus  mencari jalan keluar.

Kelas Kreatif BeYoung Art Camp #3 di Ekowisata Kerujuk ; Kelas identifikasi tanaman oleh Afifah Farida dari SAYURANKITA Pekan Baru

Saya rasa kegiatan seperti ini sangat penting sekali untuk dihadiri oleh kaum remaja saat ini karena disesi menceritakan pengalamannya dilingkungan mereka baik itu di sekolah maupun di rumah. Diantara beberapa keluhan yang mereka sampaikan itu rata-rata semuanya berbeda dan seperti cara bergaul, penanggulangan masalah yang mereka hadapi dan cara-mereka untuk menghadapi pernikahan anak usia dini yang marak terjadi di zaman sekarang, belum lagi dengan remaja yang didorong untuk bekerja sehingga banyak diantara mereka yang memutuskan untuk pergi merantau keluar negeri. Alhasil mereka lebih cenderung ke arah negatif seperti hura-hura, mabuk-mabukan dan memakai narkoba.

Kelas Photo-Video oleh Hamdani (Seniman Video/ Film Maker) di Beyoung Art Camp #3

Memilih secara selektif akan arus modernisasi, globalisasi dan semacamnya itu memang sulit. Saat ini, mengingat akan pengaruh-pengaruh kebudayaan barat yang menggerus kebudayaan kita di negeri ini. Adapun pernyataan yang tidak akan saya lupakan dipersentasi publik ini yakni pernyataan salah satu dari siswa SMA 1 Tanjung yang mengatakan bahwa  ketika di  sekolah mereka sering kali menemukan sebuah kebijakan yang mengandung ketidakadilan kepada siswanya dan yang lebih miris lagi disekolah mereka mengaku ditekan oleh guru-guru mereka untuk berekspresi, melakukan kegiatan yang berbau seni dan apapun itu. Hal ini mengakibatkan mereka menjadi enggan dan merasa malu untuk menerapkan serta mengekspresikan bakat dan potensi yang mereka miliki.

Para peserta tengah mempresentasikan hasil temuannya

Lepas dari acara persentasi publik peserta Beyong, istirahat, solat dan makan siang, akupun pergi ke aula pinggir, disamping panggung depan banner yang bertuliskan Beyoung Art Camp dan Silaturrahmi Lingkar Seni Wallacea. Disitu saya menghadiri Acara symposium oleh seniman dari beberapa daerah yang terjaring di Lingkar Seni Wallacea. Symposium ini diselenggarakan selama 4 hari yang terdiri dari 4 panel yang membahas tentang  penguat jaringan, aktifitas kesenian,  wacana Lingkar Seni Wallacea dan bagaimana merencanakan gagasan tematik pertemuan wallacea selanjutnya.

Sedikit tentang penjelasan yang terkait dengan Lingkar seni wallacea ini yang dimana istilah ini tebentuk pada tahun 2015 lalu, merupakan gabungan antara beberapa komunitas di wilayah Indonesia bagian timur. Kata wallacea ini diambil dari nama peneliti luar negeri kala itu yang sudah menjejaki beberapa daerah di bagian timur Indonesia dan kalau tidak salah namanya Alfred Russel Wallace yang membuat garis imajiner dan membentang luas diwilayah Indonesia bagian timur. “Dulu sebelum menjadi lingkar seni wallacea nama mulanya adalah lingkar seni celebes”. kata Baim, seniman asal Gorontalo. Sama seperti yang dikatakan oleh pak Jufri dan teman-teman dari Gorontalo.

Sebelumnya pada tahun 2015 lalu para pegiat seni berkumpul di Gorontalo dengan membahas tentang eksistensi seniman yang ada di Indonesia dan pada saat itu juga terbentuklah inisiasi untuk menyatukan persoalan seni yang ada di Indonesia dan menguatkan jaringan dari komunitas ke komunitas lainnya. Menurut mereka, seni di Indonesia ini cenderung berpusat di daerah Jogjakarta, Jawa dan sekitarnya namun keberadaan seni yang diluar itu cenderung dilupakan padahal banyak sekali daerah di Indonesia yang aktifitas seni itu tidak kalah keren baik di bagian timur, utara maupun selatan Indonesia.

Adapun perwakilan dari beberapa daerah diantaranya dari Gorontalo, Maluku, NTT, NTB, makasar, palu, kendari dan ternate berkumpul diacara silaturrahmi Lingkar Seni Wallacea. Beberapa gagasan satu persatu dari perwakilan mereka ungkapkan, mencari jalan keluar dan membentuk solusi dengan beberapa panelis mempersentasikan materi mereka disimposium itu. Dari beberapa pulau yang jaraknya ratusan kilometer itu membuat saya menjadi semakin penasaran dengan komitmen mereka meninggalkan kampung halaman demi menjadi pegiat seni. Hal inilah yang membuat saya penasaran dengan cara-cara mereka bisa sampai sini.

Makan siang bersama kelurga Beyoung dan Lingkar Seni Wallacea

“Disini kami sudah merasa seperti keluarga, kami sudah sangat yakin bahwa dari rumah sampai sini kami tidak mungkin lapar diperjalanan.” Ujar Arnold dengan logat Gorontalonya. Menjadi seniman bukan hal yang dipikirkan oleh banyak orang, bahwa seni itu tidak hanya berbentuk benda dan suara saja melainkan bahwa segala sesuatu itu bisa jadi seni. Seperti yang dikatakan oleh pak Jufri bahwa “Seni itu menurut saya membaca, maksudnya kita bisa membaca semua hal yang ada disekitaran kita, dan mengekspresikannya dalam bentuk pengarsipan, bakat dsb”. Selaras dengan tujuan acara ini yakni untuk menguatkan kerja jaringan dan berbagi gagasan tentang pengumpulan isu-isu terkini yang ada di Indonesia bagian timur

Photo bareng setelah simposium terakhir di PAUD Banu Manaf Dusun Kerujuk Pemenang Lombok Utara

Acara ini dibarengi dengan kegiatan peserta Beyoung Art, dimana acara ini bertempat dilokasi ekowisata yang tepatnya di daerah alam yang terbuka dengan peramuan yang sangat sederhana. Beberapa panelis memaparkan materi yang ia berikan dan begitu juga dengan peserta lingkar seni yang menyampaikan gagasan mereka. Hal ini sangat penting sekiranya direspon oleh beberapa institusi maupu lembaga kepemerintahan dengan menampung aspirasi warga dan mempertimbangkan secara langsung bahwa hakikatnya tidak banyak orang yang suka dengan seni pada zaman ini.

Para seniman itu bertarung membuat benteng dan mempertahankan budaya dan tradisi  yang mereka lakukan smenjak nenek moyang mereka ada. Hal ini terbukti ketika salah satu panelis mengatakan tentang seni itu akan mereka bawa ke halaman rumah mereka, dan tidak mengamil alih fungsikan seni kedalam kepentingan pemerintahan.

Pertujukan teater kursi yang di lanjutkan dengan tarian dari Franky Yusuf dari Gorontalo

Pemutaran Video hasil kelas Photo-Video karya peserta Beyoung.

Di malam hari para seniman dan juga peserta melakukan pertunjukan rutin dengan mengundang antusiasme warga dalam menonton pertunjukan yang mereka bisa. Mengingat dengan banyaknya seniman yang cenderung mementingkan keuntungan mereka sediri. Dan begitupun sampai pada hari terakhir acara yang menampilkan beberapa  bakat yang teman-temna remaja bisa aplikasikan dan diingat.