Jumat 22 september 2017 saya dan Furqon (Teman Kampus)  mendatangi salah satu komunitas yang ada di Lombok Utara namanya Pasir Putih.  Pasir Putih merupakan  organisasi nirlaba egaliter berbasis di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Berbagai kegiatan – kegiatan yang diinisiasi merupakan hasil pengamatan kawan-kawan Pasir Putih terhadap pergeliatan sosial, media, seni dan budaya  yang berhubungan langsung dengan masyarakat lokal di Pemenang serta publik di Lombok Utara.

Saat ini, Pasir Putih sedang menyelenggarakan acara kemah seni atau Beyoung Art Camp dan Simposium Lingkar Seni Wallacea. Beyoung Art Camp  merupakan event tahunan Pasir Putih sebagai platform bagi remaja di Lombok untuk menyalurkan bakat dan minat yang selama ini terpendam. Beyaoung Art Camp kali ini bertemakan “Darah Muda Darah Bekarya”.

Program ini diselenggarakan dalam bentuk kemah di alam terbuka, mengundang para siswa-siswi di berbagai penjuru di Lombok. Beyoung Art Camp ini dibagi menjadi dua  kelas yakni kelas kreatif dan inspiratif. Dimana kelas tersebut di peruntukkan kepada remaja agar bisa lebih kreatif dalam melihat persoalan yang dilihatnya dalam kesehariannya baik lingkungan sekolah maupun tempat tinggalnya. Kelas kreatif ini meliputi Identifikasi Tanaman, Video-Foto, Blog, dan Jurnalisme warga. Sedangkan untuk kelas Inspiratif terdiri dari komunitas Bank Sampah Mandiri Mataram dan BerajahAksara (Pasirputih).

Kurang lebih 5 KM dari sekretariat Pasir Putih, dan tidak jauh dari pasar desa Pemenang. Saya dan teman kampus memasuki dusun Kerujuk dengan perasaan salut dan bangga melihat penataan kampung dan suguhan pemandangan alam yang masih terjaga kelestariannya, berbagai fasilitas dan wahana hiburan bisa kita temukan serta keramahan penduduk yang menyentuh perasaan. Seketika itu pertanyaanpun timbul dari hati saya “Mengapa Dusun kerujuk dijadikan sebagai tempat pelaksanaan Beyoung Ark Camp #3”. Saya rasa tahun 2016 Beyaoung diselenggarakan di pingir pantai dengan tema “Main Pinggir”. Ditambah lagi, Pasir Putih dua tahun ini mengangkat tema besar “Segara Gunung”  untuk semua programnya. Tema ini kemudian menjadi acuan Pasir Putih dalam membaca potensi laut dan gunung baik kebudayaannya, perekonomiannya, kerukunannya dan lain sebagainya.

Kedatangan kawan-kawan Lingkar Seni Wallacea dari Gorontalo

Akhirnya pada perhelatan Beyoung Art Camp 2017 di realisasikan di dusun Kerujuk, Pemenang Barat, Lombok Utara.  Dusun ini dipilih karena warganya memelihara dan menjaga tempat tinggalnya dengan dikemas oleh ide-ide kreatifnya membentuk ekowisata. Ide ini saya rasa sangat bagus untuk meminimalisir penebangan pohon secara liar, di tambah lagi terik panas matahari sangat terasa saat ini karena banyaknya hutan-hutan di Lombok utara secara khusus mengalami kegundulan yang menyebabkan mata air di Pemenang sudah berkurang. Saya pernah mendengarkan sekilas jargon kawan-kawan ekowisata Kerujuk “Mari Bermain Dengan Alam”. Kata ini yang selalu saya ingat ketika melihat  keindahan serta kelestarian alamnya, yang sesuai dengan beberapa perencanaan komunitas Pasir Putih dalam membahasakan tema besarnya yakni Segara Gunung dalam hal ini terlihat pada program Beyoung Art Camp. Tentunya dengan dukungan alam ini, akan membantu para peserta Beyoung untuk lebih jernih dalam berpikir, berkreatifitas, berkarya dan belajar .

Selang beberapa menit ketika saya melepas lelah disalah satu camp Beyoung Art, beberapa dari panitianya mengajak saya untuk memperbaiki salah satu banner yang terpampang besar diterop sebelah barat area acara.

Oh iya,, Saya hampir lupa, bahwa diacara ini saya menjadi voluntir di bidang pendokumentasian acara melalui tulisan.Yang sebelumnya beberapa hari yang lalu saya sudah datang ke Pasir Putih, namun di hari lainnya saya tidak sempat kembali lagi karena terhalang oleh beberapa kendala. Pada kesempatan ini, saya juga menjadi delegasi dari komunitas TerasBerajah Kediri Lombok barat, tempat saya aktif saat ini

Disaat malam mulai tiba beberapa peserta dan panitia acara mempersiapkan dirinya untuk beristirahat melakukan ibadah solat maghrib sekaligus makan malam dan berdiskusi kecil-kecilan. Tak lama kemudian pengeras suara serta soundsistem panggung acara berbunyi yang menandakan bahwa acara pembukaan sudah akan tiba.

Antusiasme warga menyaksikan acara pembukaan Be Young Art Camp #3 2017 & Lingkar Seni Wallacea

Acara sudah disusun sedemikian mungkin mulai dari opening hingga closing, dan disaat itu juga dalam beberapa menit semua warga kampung berbondong-bondong ingin menonton acara tersebut, orang-orang terlihat antusias dengan menyuarakan suara yang keras ditemani dengan suara-suara tepuk tangan yang meriah.

Acarapun dimulai, dengan bahasa tubuh dan suara yang lembut, pembawa acara memberitahukan susunan acara yang akan diselenggarakan. Semua masyarakat duduk melingkar didepan panggung yang dibuat dari pohon bambu itu. Akupun turut duduk diantara masyarakat dan tamu-tamu undangan.

Sambutan POKARWIS Ekowisata Kerujuk

Sambutan dari Yayasan PasirPutih oleh Muhammad Gozali

Sambutan dari perwakilan Lingkar Seni Wallacea

Acara pembukaan pertama dibuka oleh Bapak Lukman yang selaku menjadi ketua dari pokdarwis (kelompok sadar wisata) kampung kerujuk Lombok Utara. Beliau menyampaikan sambutan hormat kepada para tamu undangan dan sedikit pembahasan mengenai kreativitas dan kelestarian alam. Setelah itu acara pembukaan dilanjut oleh ketua Yayasan Pasir Putih yakni Muhammad Gazali beserta perwakilan panitia dan peserta Lingkar Seni Wallacea.

Pembukaan kegiatan secara simbolik oleh masing-masing perwakilan daerah dan Aparat setempat

Pada pukul 21.30 WITA, acara pembukaan Beyoung Art dan Simposium Lingkar Seni Wallacea ini dibuka dengan melakukan pembakaran api unggun yang dibarengi dengan genggaman tangan bersama antara perwakilan-perwakilan dari beberapa seniman dan juga aparat kepolisian. “Pembakaran api unggun ini, bermaksud untuk mempilosofikan semangat darah muda dan  darah berkarya yang dimana kebetulan kalimat itulah yang juga menjadi tema dari acara ini” kata Ijtihad, salah satu panitia dan fasilitator di acara Beyoung Art Camp dan Simposium Lingkar Seni Wallacea ini.

Student Voice oleh Bq. Rani Mayani Pragina Duta Be Young 2017

Seusai peresmian dari pembukaan acara, dilanjutkan dengan pembacaan Student Voice (suara siswa) yang diwakilkan oleh Duta Beyoung 2016, Baiq Rani Mayani Pragina. Mayang membacakan kata-kata kegelisahan yang ia alami selama ini, mulai dari permasalahan hingga kebahagiaannya, baik itu lingkungan rumah, maupun dilingkungan sekolahnya. Student Voice diperuntukan pada siswa yang akan membahas berbagai problematika kehidupannya baik di sekolah ataupun di rumah.

Menjelang diakhir acara Kelompok Rudat Setia Budi turut serta menjadi penghibur acara, yang sekaligus menjadi hiburan acara hingga acara itupun usai. Dan masyarakat kembali pulang kerumahnya serta para seniman dan juga peserta kembali ke camp masing-masing untuk beristirahat.