Program BeYoung Art Camp merupakan event tahunan yang diinisiasi oleh Pasiputih. BeYoung merupakan platform bagi remaja untuk menggali isu terkini, menggali potensi, serta mengembangkan kreativitas. Tahun ini BeYoung mengusung tema “Darah Muda, Darah Berkarya” bertujuan agar para remaja dapat berkarya secara partisipatif, kolaboratif dan kolektif, memanfaatkan media dalam mengelola potensi ruang dan masa.

BeYoung menjadi penting untuk diadakan sebagai ruang alternatif bagi remaja dalam rangka menggali isu-isu terkini tentang remaja dan menggali potensi yang dimiliki oleh remaja. Selain itu melalui program ini, remaja dapat belajar berbagai keterampilan melalui kelas-kelas kreatif yang dikurasi oleh tim BeYoung. Tahun lalu, ada lima kelas kreatif diantranya, kelas video oleh Serrum Jakarta, kelas penulisan kreatif oleh Bq. Ilda Karwayu, Akarpohon Mataram, kelas pantomime oleh L’fant Physical Theatre dari Taiwan, kelas recycle oleh Aisyah Odist, Bank Sampah NTB Mandiri dan kelas instalasi oleh Muhammad Sibawaihi, Yayasan Pasirputih. Nah, untuk tahun ini akan ada lima kelas kreatif juga. Diantaranya kelas Pembuatan dan Pemanfaatan blog, kelas penulisan (jurnalisme warga), kelas video, kelas design dan kelas pangan.

Tahun ini BeYoung akan dilaksanakan di Ekowisata Kerujuk. Ekowisata Kerujuk dikelola oleh masyarakat setempat secara bersama. Ekowisata Kerujuk menawarkan destinasi baru yang berbeda di tengah maraknya industri pariwisata yang dalam banyak hal tidak berpihak kepada warga.  Terbentuknya ekowisata ini dikarenakan masyarakat menyadari adanya potensi yang dimiliki oleh daerah mereka. Hingga akhirnya masyarakat berinisiatif untuk membentuk ekowisata yang dikelola bersama-sama. Selain itu, hal dasar yang mendasari Ekowisata Kerujuk adalah sebuah usaha menjaga alam dan lingkungan. Dengan terbentuknya gagasan ekowisata, perlahan masyarakat sudah mulai menyadari betapa alam dan lingkungan sangat berharga bagi mereka. Terbukti, kini Dusun Kerujuk memiliki undang-undang dusun atau awig-awig yang secara tertulis memuat larangan dan sanksi jika merusak alam dan lingkungan.

Dalam kegiatan ini, Pasirputih tidak hanya berbicara bagaimana manusia mengelola ruang saja, namun lebih penting adalah bagaimana setiap kita memiliki kesadaran atas potensi diri, sebab ia adalah hal yang sangat penting. Ketika kita menyadari kemampuan apa yang kita  miliki, tentunya akan mudah bagi kita untuk menentukan arah yang diinginkan. Begitu pun pada tahap ‘berkarya’, ketika potensi diri telah kita sadari akan mudah membuat suatu karya sesuai dengan kemampuan kita. Lebih menarik lagi jika kita memiliki kesadaran berkarya dengan memaksimalkan pemanfaatan ruang yang ada di sekeliling kita.

Salah satu contoh berkarya dengan pemanfaatan ruang secara optimal yaitu Ekowisata Kerujuk. Karena masyarakatnya menyadari potensi dan mampu mengelola potensi yang daerahnya miliki secara maksimal. Selain Ekowisata Kerujuk, salah satu contoh pemanfaatan ruang telah dilakukan oleh seorang teman kami dari Pekanbaru, Afifah Farida Jufri, M.Si. Ifa (panggilan akrabnya) merupakan penggagas dan pengelola Sayurankita, dimana Sayurankita merupakan laboratorium berpikir dan praktik di ranah pertanian secara umum, yang dikombinasikan dengan sudut pandang sosiokultural  dan pengelolaan media alternatif. Ifa merupakan lulusan S2 Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB). Di tahun ini, BeYoung akan kedatangan Ifa sebagai fasilitator dalam salah satu kelas kreatif.

Menyadari potensi yang dimilikinya, Ifa berinisiatif untuk membentuk Sayurankita. Ifa menyulap halaman rumahnya menjadi tempat bercocok tanam. Ada berbagai macam sayuran yang ditanam dihalamannya seperti tomat, kangkung, terong, pakchoy dan masih banyak lagi yang lainnya (lebih lengkapnya baca tulisan saya tentang Sayurankita; Laboratorium Pertanian di Pekanbaru).

Jadi melalui program BeYoung ini remaja akan menggali potensi yang mereka miliki melalui beberapa kelas kreatif yang ada. Tujuannya agar para remaja dapat menyadari kemampuan yang mereka miliki dan dapat berkarya sesuai dengan potenis yang mereka miliki.

Sebelum masuk pada kelas kreatif, akan ada kelas ‘program’ inspriratif. Pasirputih mencoba keluar dari munculnya patron dalam sebuah pergerakan, sehingga dalam program BeYoung, kami tidak mengangkat individu/tokoh inspriratif melainkan mengangkat ‘program’ isnpiratif. Karena menurut kami program tidak akan terlaksana jika tidak ada kerja kolektif. Fasilitator kelas ‘program’ inspiratif untuk tahun ini adalah BerajahAkasara, Pasirputih yang akan disampaikan oleh Ahmad Ijtihad dan Aisyah Odist dari Kawis Krisant, Bank Sampah NTB Mandiri.

Menurut direktur program BerajahAksara Ahmad Ijtihad, BerajahAksara merupakan gerakan riset kolektif terhadap potensi ruang dan peristiwa masa melalui pengarsipan dan pembacaan ulang terhadap realitas masyarakat. BerjahAksara telah melakukan riset di beberapa desa dan salah satu perguruan tinggi di Lombok, diantaranya Dusun Tebango Bolot, UIN Mataram, Desa Sesela dan Desa Sekotong Timur. BerajahAksara berupaya untuk mengangkat potensi lokal dan sebagai ruang persebaran pengetahuan yang dilakukan oleh warga secara kolektif. Pengetahuan tersebut dihajatkan menjadi pemantik untuk menjaga dan melestarikan potensi yang warga miliki. Selain itu, BerajahAksara menjadi bagian dari upaya gerakan literasi media kepada warga (sadar media), sehingga warga mampu memilah dan memilih informasi yang diakses melalui media. Sedangkan Kawis Krisant merupakan inisiatif dari Bank Sampah NTB Mandiri untuk mengelola ruang yang kumuh menjadi ruang wisata, edukasi dan budaya.

Tujuan utama dari program BeYoung kedepan adalah Youth Voice. Dimana para remaja dapat menyuarakan ungkapan hati tentang kegelisahan mereka melalui pertunjukkan, radio remaja dan lain sebagainya.