Sore itu warga desa berduyun-duyun datang ke Polsek Pemenang dengan antusias, termasuk saya dan teman-teman dari Jakarta yang sudah beberapa waktu bermalam di Pemenang. Bukan karena kasus, melainkan ada acara khusus hari itu. Warga dengan gawainya masing-masing sudah bersiap untuk mengabadikan momen. Dua puluh satu kuda dan masing-masing kusirnya sudah hadir di sana. Cidomo, mereka menyebutnya. Kuda-kuda tampil gagah dengan kacamata dan sepatu kuda yang baru. Bagian belakang yang biasa mengangkut penumpang pun dihias meriah dengan tirai-tirai dari tanaman. Para kusir terlihat necis mengenakan baju adat Sasak berwarna hitam-hitam lengkap dengan Capuq (Ikat Kepala), juga mengajak anak-anak mereka yang didandani dengan baju adat dan siap untuk pertunjukan.

Setelah semua berkumpul, acara resmi dibuka oleh Camat Pemenang dan Kapolsek Pemenang. Satu persatu cidomo-cidomo melaju menuju Bangsal dengan nomor berurut dari angka satu, dengan aba-aba berlari berirama mencuri perhatian berpasang-pasang mata di sepanjang jalan menuju titik kumpul akhir di Bangsal Pemenang. Tak mau ketinggalan, saya bersama Reynald, seorang teman dari Komunitas Gubuak Kopi-Solok, akhirnya mengikut ke Bangsal dengan menaiki cidomo bernomor dua puluh satu dengan kamera perekam di tangan. Untungnya saja, fobia saya kepada kuda sudah berangsur hilang. Malah saya asyik memotret cidomo-cidomo tersebut, tak lupa juga merekamnya untuk diunggah ke Instagram story.

Cidomo adalah singkatan dari Cikar Dokar Motor, atau yang tak lain disebut Delman atau Andong di seputar Pulau Jawa, begitu pula di kota kelahiran saya di Sumatera Utara. Seekor kuda melaju dengan cambukan perintah dari si kusir, yang juga mengarahkan kemana si kuda harus berlari. Tak ada yang beda. Di Lombok Utara, Cidomo menjadi salah satu alternatif transportasi untuk membawa barang maupun penumpang. Tepat di hari itu, akan dilakukan penilaian untuk pencarian Kusir Idaman dari cidomo-cidomo yang ikut serta berpawai ria sebagai bagian dari acara Bangsal Menggawe 2017. Hadiahnya pun tak main-main, masing-masing seekor kambing untuk tiga kusir idaman pilihan juri.

Barisan cidomo di Halaman Kantor Kapolsek Pemenang

Adalah Daniel P. Emet, seniman asal Mataram yang menginisiasi parade cidomo dan pencarian Kusir Idaman ini. Pemuda kelahiran asli Sukabumi ini merespon salah satu permasalahan pelik yang terjadi di Terminal Bangsal, yaitu transportasi tradisional Cidomo. Ketika saya mewawancarai Emet seusai pertunjukan monolog “Inaq” yang disutradarai Irawita di kantor Desa Pemenang Barat yang juga bagian acara Bangsal Menggawe, ia menceritakan proses eksekusi idenya tersebut. Selama masa residensi yang kurang lebih dua minggu, ia dibantu oleh komunitas Gerbong Toea, sebuah komunitas kreatif yang ada Pemenang yang sudah eksis selama tujuh turunan, Emet terus berkonsultasi soal kusir dan cidomo kepada tokoh Gerbong Toea.

Dari cerita yang didapatnya, dahulu pemilik kuda hanyalah kaum dari strata sosial yang tinggi, namun seiring dengan perkembangan jaman, mereka lebih memilih mobil atau mobil sebagai alat transportasi. Jadilah, sekarang cidomo sebagai kaum minoritas di Pemenang. Namun bagi turis dan pendatang, bisa jadi menaiki cidomo adalah sebuah pengalaman baru, seperti halnya bagi saya. Dari Bangsal menuju Perempatan Pemenang, tarifnya Tiga Puluh Ribu Rupiah sekali jalan, dan bisa ditawar. Semakin banyak penumpang akan semakin murah ongkos yang ditanggung per-orang. Satu Cidomo bisa memuat sampai tujuh orang sekaligus, termasuk kusir. Kalau tak kasihan dengan si kuda, bisa dipaksa untuk muat lebih dari jumlah tersebut.

Ide untuk mempertahankan eksistensi Cidomo tersebut, ternyata menemui banyak kendala. Salah satunya adalah tertutupnya pihak Cidomo kepada orang baru. Alih-alih terbuka untuk saran, mereka malah berpikiran negatif. Masalah mafia transportasi membuat Cidomo-cidomo mempunyai kubu-kubu yang terkadang tak sehat untuk mendapat penumpang. Namun berkat Pak Siri, Ketua Komunitas Cidomo, para kusir yang tadinya pesimis terhadap ide Emet pun tergerak untuk berpartisipasi.

Dari total 90 Cidomo yang ada di Pemenang, 21 di antaranya bersedia mengikuti pawai dan melebihi ekspektasi Emet, mereka meramaikan dengan tampilan penuh keniatan dan berpakaian adat. Begitupun reaksi senang dari masyarakat yang terekam di kamera dan ingatan saya.

Dari hasil surveynya sebagai penumpang, Emet menyayangkan fasilitas Cidomo yang kurang memiliki nilai jual sebagai bagian dari pariwisata di Lombok Utara atau Pemenang pada khususnya. Kurangnya perhatian secara estetik membuat ia berpikir ulang untuk membayarkan sejumlah uang dan menaiki Cidomo dengan pemandangan yang biasa, kantor di kanan kiri, dan jarak tempuh yang tak jauh. Bisa dikatakan Cidomo saat ini hanya berpikir komersil tanpa memperhatikan servis, dan terkadang membuat risih penumpang dengan semacam paksaan yang dirancang di Terminal, yang membuat mereka mau tak mau naik Cidomo. Dari sana, Emet mewakili penumpang Cidomo lalu menuangkan saran ke dalam sebuah buku saku Kusir Idaman berisi panduan menjadi kusir yang baik yang Emet beri judul “Berubah Atau Punah” yang ia bagikan kepada para kusir.

Barisan Cidomo di Bangsal

“Berubah Atau Punah” adalah tulisan yang dibuat mural oleh Emet untuk pelengkap hasil presentasi residensinya, sekaligus yang ingin disampaikannya untuk problematika Cidomo di Kecamatan Pemenang.

Buku Saku Kusir Idaman