Sabtu, 1 April 2016, hari itu adalah hari ketiga saya di Pemenang untuk menikmati suguhan Bangsal Menggawe 2017 yang diusung oleh teman-teman pasirputih. Melihat kesibukan teman-teman pasir putih menjadi kenikmatan tersendiri bagi saya. Laptop yang berserak, abu rokok yang tercecer, kopi hitam yang tinggal setetes, kertas-kertas yang memenuhi ruangan menjadi pemandangan yang biasa bagi saya selama disini. Hal unik lainnnya adalah posisi tidur yang bisa dimana saja. Di kursi, senderan di dinding, bahkan tidur di sela-sela tumpukan kertas juga menjadi keahlian tersendiri bagi teman-teman pasir putih. Satu kata yang bisa menggambarkan keadaan itu, WOW!.

Hari itu, setelah sarapan saya dan teman-teman Forum Lenteng mengunjungi Kantor pasirputih lebih pagi. Kebetulan, saya dan teman-teman tidur di penginapan dekat pelabuhan Bangsal.  Hari itu, teman-teman pasirputih menjadi lebih sibuk karena ada 3 karya seniman yang akan menyemarakkan malam minggu masyarakat Pemenang, salah satunya adalah teater monolog hasil kolaborasi seniman Irawita dan salah satu ibu-ibu di Pemenang, Ibu Martini Supiana.

Irawita sebagai sutradara dan penulis naskah

Saya banyak belajar dari seniman Irawita. Melihat kegigihan bunda Ira mengajak ibu-ibu di Pemenang untuk ikut berpartispasi dalam kegiatan seni. Bagi bunda Ira, kegiatan seni merupakan salah satu pendidikan alternatif yang dapat mengajak masyarakat untuk memiliki kegiatan positif. Banyak hal yang dilakukan oleh bunda Ira untuk mengajak masyarakat terutama ibu-ibu untuk berkolaborasi dan berpartisipasi dalam teater yang akan ditampilkan dalam acara puncak Bangsal Menggawe 2017. Hal ini terlihat dari penampilan teater monolog di kantor kepala desa hari itu yang berhasil memukau penonton yang hadir.

Sejujurnya, saya sempat khawatir dengan acara teater ini. Bagaimana tidak, malam itu hujan mengguyur Pemenang. Waktu telah menunjukkan pukul 19.30 WITA. Persiapan sudah selesai dilakukan. Ana (Martini Supiana) sudah siap unjuk gigi, tetapi hujan seakan ingin ikut menonton teater ini menemani sang malam. Tapi ternyata, apa yang saya khawatirkan tidak berlaku malam itu. Satu-satu penonton mulai hadir. Segerombolan anak-anak memenuhi ruangan. Ibu-ibu dengan malu-malu tetapi mau memenuhi halaman luar dan mengintip dari balik jendela, bahkan, bapak-bapak juga ikut menonton penampilan teater monolog ini dan seniman-seniman luar kota yang ikut meramaikan Bangsal Menggawe 2017.

Penampilan Ana sebagai Inaq berhasil menggiring penonton ke dalam realita kehidupan  yang sebenarnya tetapi sering terabaikan. Teater monolog yang berjudul “INAQ” mengangkat masalah sehari-hari kehidupan perempuan di Pemenang, khususnya di dusun Karang Pangsor. Monolog ini menceritakan tentang seorang perempuan yang sudah menikah dan memiliki anak, tetapi mulai bosan dengan keadaan hidup yang belum membaik. Masalah ditambah karena suami yang dinikahinya tidak memiliki pekerjaan tetap, sehingga ekonomi keluarganya semakin susah di zaman yang semakin mahal. Keadaan tersebut sempat membuat Inaq menyesal karena menikah muda dan tidak mengikuti saran orangtuanya untuk menikahi laki-laki yang dipilihkan orangtuanya. Monolog ini ditutup dengan tangisan anak Inaq  yang menyadarkan Inaq bahwa kekesalan dan kebosanannya pada hidup hanya luapan emosi sesaat.

Selama monolog berjalan, penonton terkesima dengan peran dan ekspresi Inaq. Inaq berhasil  mengajak penonton untuk ikut kesal, marah, tertawa, malu-malu, dan bahagia sampai monolog selesai.

Penasaran dengan keberhasilan peran Inaq, Bunda Ira menjawab “Sebelum membuat monolog ini, saya melakukan analisis sosial dulu dengan kehidupan masayarakat, terutama ibu-ibu yang ada disini, sehingga ini memang cerita sehari-hari dalam kehidupan masyarakat disini. Jadi kita tinggal menambahkan sedikit fiksi. Karena mau bagaimanapun, teater itu tetap perlu unsur fiksi. Karena cerita yang diangkat dekat dengan ibu-ibu, jadi memang lebih dapat rasanya.”

Martini Supiana menceritakan proses latiahannya pada saat diskusi

Bunda Ira berharap, bahwa monolog ini bukan penampilan terakhir dari ibu-ibu di Pemenang, khususnya Dusun Karang Pangsor, tapi merupakan langkah awal untuk memulai teater disini. Karena menurut bunda Ira, teater dapat mengurangi stres terutama ibu-ibu yang sudah lelah dengan pekerjaan rumah tangga. Dengan adanya teater ini, maka ibu-ibu dapat lebih ekspresif dan mendapat hiburan yang positif.  Seniman resisdensi Bangsal Menggawe 2017  memang sudah selesai, tetapi euforianya masih berlanjut. Semoga, inisiasi yang dilakukan oleh Bunda Ira selama kegiatan seniman resisdensi juga terus berlanjut dan berkembang di Pemenang, khususnya dusun Karang Pangsor.