Di kala sore di pematang sawah dengan cuaca yang mendung, wayang-wayang mulai dijejerkan oleh Citra Sasmita. Ia yang merupakan seniman residensi Bangsal Menggawe 2017: “Siq-siq O Bungkuk” mempresentasikan instalasi wayang, hasil kolaborasi dengan ibu-ibu Dusun Karsunda (Dusun Karang Subagan Daya), Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Sebelumnya, Citra Sasmita melakukan residensi selama satu bulan, sekaligus melakukan riset dalam proses berkaryanya. Awalnya, ia memberikan lokakarya bahasa Inggris untuk membuka ruang diskusi yang sebelumnya jarang terjadi kepada ibu-ibu Karsunda. Ruang diskusi tersebut dilihat oleh Citra sebagai cara untuk menyelesaikan permasalahan sosial di Dusun Karsunda, khususnya relasi antara ibu-ibu dengan anak-anaknya.

Setelah ruang-ruang diskusi tersebut terbangun, ia memberikan lokakarya pembuatan wayang yang melibatkan anak-anak dan ibu-ibu[1]. Menurutnya dalam kisah pewayangan, perempuan selalu ditempatkan sebagai korban. Oleh karena itu, ia memberikan gagasan tandingan yang selama ini mencitrakan hal tersebut melalui representasi pewayangan yang dibuat oleh ibu-ibu dan anak-anak. Pada proses pembuatannya, material yang digunakan cukup sederhana, yaitu kardus bekas dan cat. Para ibu membuat wayang dalam bentuk besar, sementara anak-anak membuat wayang dalam bentuk yang kecil.

Presentasi wayang tersebut pada awalnya hanya diletakkan dan dijajarkan di pematang sawah, lalu melalui aksi performatif, Citra mengajak anak-anak untuk mengambil wayang-wayang dan menancapkannya di pematang sawah yang tidak dipakai. Pematang sawah tersebut juga, menurut Citra, jarang digunakan oleh warga, bahkan anak-anak tidak pernah bermain di tempat tersebut. Menurut amatan Citra, relasi antara anak-anak dan ibunya cukup renggang, dalam artian, ibu-ibu dengan anaknya jarang berkumpul bersama. Maka dari itu, pemilihan tempat di pematang sawah tersebut menarik untuk dilihat sebagai peristiwa yang mengaktivasi ruang bermain bagi anak-anak. Anak-anak secara antusias bermain dengan wayang-wayang tersebut serta Citra juga sebelumnya menancapkan tiang bambu yang pada bagian atasnya di taruh serbet dapur di tengah-tengah pematang sawah.

Pada awalnya, saya memang berpikir bahwa akan ada pertunjukan wayang yang dimainkan oleh Citra sebagai seniman ataupun dimainkan oleh anak-anak. Namun, peristiwa mengambil dan menancapkan wayang tersebut memberikan pengalaman bagi anak-anak untuk bermain-main di pematang sawah yang jarang digunakan untuk bermain. Selain memberikan pengalaman bagi anak-anak untuk bermain, Citra juga memberi kesempatan untuk memainkan wayang dengan cara berbeda, yaitu memainkan wayang secara bersama-sama yang selama ini hanya dimainkan oleh seorang dalang wayang saja. Wayang tidak hanya dijadikan obyek yang pasif, namun juga obyek yang aktif melalui pergerakan yang dimainkan oleh masing-masing anak.

Setelah peristiwa ditancapkannya wayang-wayang oleh masing-masing anak, kami kembali membuat wayang-wayang tersebut menjadi obyek yang pasif karena kami hanya melihatnya dari kejauhan. Pada awalnya, kami menempatkan wayang tersebut menjadi karya seni yang tidak boleh diintervensi dan tidak boleh disentuh, seperti karya seni di dalam galeri. Namun, beberapa dari kami justru mengintervensi dengan merebut ruang melalui celah-celah antara satu wayang dengan wayang yang lain guna mengaktivasi ruang bermain anak-anak. Beberapa dari kami mengambil telepon genggamnya dan mulai memotret satu persatu wayang tersebut, lalu ada juga yang berpose dengan wayang- wayang tersebut. Setelah cukup riuh di tempat instalasi wayang tersebut, jarak antara warga sebagai penonton dan wayang sebagai obyek atau karya seni jadi tidak ada. Kami pun membuat video dengan cara berlari di antara wayang-wayang tersebut. Akhirnya, kami pun mengajak anak-anak untuk terlibat dalam pose-pose tersebut seperti merespon dengan mannequin challenge dalam bentuk video dan bahkan secara organik, anak-anak mulai bermain-main di pematang sawah tanpa dikomandoi siapapun. Lalu, kami pun memilih bermain dengan anak-anak sementara para ibu duduk dan melihat anak-anaknya bermain di pinggiran pematang sawah. Pengalaman bermain-main anak-anak tersebut menjadi goal Citra dalam proses berkaryanya guna mengaktivasi ruang-ruang sebagai tempat bermain bagi anak-anak Dusun Karsunda.

 

[1] http://pasirputih.org/2017/03/11/citra-workshop-wayang-karsunda/ diakses pada tanggal 1 April 2017, pukul 12.30.