Rabu, 29 Maret 2017. Sekitar jam 20.25 WITA, Fatih Kudus Jaelani terus saja berproses bertemu dengan banyak tokoh pemuda dan tokoh masyarakat yang ada di Pemenang. Kali ini ia bertemu dengan Damatta Samena dan Metawadi di Dusun Tebango, Desa Pemenang Timur.

Kedatangan Fatih ini untuk mendiskusikan temuan-temuannya mengenai pemuda-pemuda dan tokoh yang sempat temui sebelumnya untuk mengisi ikrar dan sumpah pemuda yang ia rangkai dari beberapa diskusi di komunitas-komunitas pemuda yang ada yang di Pemenang.

Ngobrol asyik di rumah Metawadi

Ia menamai projeknya “Ikrar Mempolong Pemuda Pemenang”. Dalam ikrar ini memang perlu didiskusikan dengan mateng dengan beberapa tokoh di Pemenang, mengingat ikrar ini menggunakan bahasa Pemenang. Sangat perlu oleh Fatih untuk bertemu dengan tokoh yang mengerti karakter dan bahasa yang tepat untuk digunakan pada ikrar tersebut.

Metawadi dan Dama memberikan masukan yang menarik terhadap ikrar tersebut, mulai dari konsekuensi moral yang disebabakan oleh ketidak patuhannya terhadap ikrar atau janji tersebut dan memberikan kata-kata yang tepat. Metawadi juga berpendapat bahwa ikrar ini sebagai tekad untuk berubah secara perlahan, tapi kalau kita berbicara ini adalah janji, maka ikrar tersebut sangat saklek dan harus ditepati secara langsung tanpa ada proses perlahan.

Penutup obrolan malam ini dengan makan bersama di rumah Metawadi

Obrolan menarik dan kami menutupnya dengan tawaran makan malam dari Metawadi. Kebetulan ada Nia Agustina yang ia juga salah satu seniman residensi Bangsal Menggawe 2017 yang memang tinggal di rumah Metawadi dan sering masak di sana bersama istri Metawadi. Usai makan, kamipun beranjak menuju rumah Mintarja yang berada di Dusun Karang Desa, Desa Pemenang Barat. Ketika sampai di rumah Mintarja, Mintarja tidak di rumah dan ia sedang di rumah tetangga, tepatnya di rumah Hamdani.

Di sana, Fatih bertemu dengan Mintarja, Muliawan dan kakak dari Hamdani. Di sini ia berdiskusi banyak hal mengenai bahasa Pemenang yang ada dalam “Ikrar Mempolong Pemuda Pemenang”. Fatih mendapat banyak masukan juga, baik dari Mintarja, Muliawan dan dari pemilik rumah. Mulai dari bahasa, cara pengucapan dan hal-hal yang harus diperhatikan mengenai penggunaan bahasa yang secara penyebutan sama, namun berbeda arti.

Fatih mengeluarkan semua berkas dan coretan yang ia sudah kumpulkan selama residensinya di Bangsal Menggawe selam satu bulan.

Ikrar ini akan dilounching pada hari puncak Bangsal Menggawe 2017 pada 2 April 2017 yang tinggal menghitung hari ini.