Kami bertolak dari Jakarta untuk menghadiri penyelenggaraan kegiatan Bangsal Menggawe 2017 yang diinisiasi oleh warga bersama komunitas pasirputih dan beberapa komunitas lain dari berbagai daerah. Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Bangsal Menggawe 2017, kegiatan hari ini difasilitatori oleh perkumpulan studi seni rupa dan kesenian asal Jakarta: Serrum. Dengan membawa semangat “ruang berbagi”, hari ini Serrum mengadakan Sekolah Pasar Ilmu. Sekolah Pasar Ilmu berangkat sebagai upaya mengurai bagaimana ilmu pengetahuan didistribusikan kepada masyarakat. Merespon sistem distribusi yang selama ini berkarakter top-down, Sekolah Pasar Ilmu berusaha untuk melihat apa yang menjadi potensi lokal di setiap masyarakat melalui lihatan atas kebutuhan dan ketersediaan ilmu pengetahuan di lokasi.

Dari Kantor pasirputih saya berjalan sekitar 700 meter ke arah Pantai Bangsal. Sekolah Pasar Ilmu mengambil tempat di Gedung TES (Tempat Evakuasi Sementara) Pemenang, gedung milik BNPB yang bagi saya nampak begitu ditelantarkan. Kegiatan berlangsung di lantai paling atas Gedung TES Pemenang. Siang itu begitu terik ketika beberapa penyelenggara mulai mempersiapkan tempat untuk dijadikan sekolah. Sekolah Pasar Ilmu kali ini bertajuk Bang Madun Jadi Kepala Sekolah. Bang Madun merupakan pegiat seni musik gambus yang aktif di Pemenang. Ketika membawakan lagu-lagu, tak jarang Bang Madun turut berbagi informasi perihal isu-isu sosial terkini di Pemenang. Agak lain dari kegiatan sehari-harinya yang juga menjabat sebagai Kepala Dusun Karang Bangket, hari ini Bang Madun akan menjadi seorang Kepala Sekolah.

Bang Madun sebelum ke sekolah, ia main musik gambus dulu bersama anank-anak di Karang Baru

Kursi-kursi mulai disusun berhadap-hadapan, sebuah susunan yang cukup janggal bagi saya karena dugaan saya saat itu ialah kursi-kursi akan disusun menghadap ke satu arah seperti yang biasa kita lihat di kelas-kelas sekolah. Menunggu warga Pemenang lain hadir, anak-anak yang antusias dan hadir lebih cepat dari jadwal bermain-main di lantai teratas Gedung TES yang langsung beratap langit. Beberapa anak berlatih alat musik gambus, ada pula yang bersepeda dan bermain bola, dan bermain pesawat mainan dari kertas. Mereka bermain dengan riang di atas lantai yang sudah digambar animasi karya @_thepopop. Satu persatu hingga sekelompok warga yang tadinya masih melihat dari bawah mulai naik menuju ruang kelas. Lagi, saya dihadapkan pada pemandangan yang tak lazim. Kelas dipadati oleh warga berbagai usia, mulai dari anak-anak sampai nenek-nenek. Semuanya duduk berhadap-hadapan, kemudian Pasar Ilmu dimulai oleh Bang Madun yang menyanyikan sebuah lagu.

Bang Madun memperkenalkan diri sebagai Kepala Sekolah Pasar Ilmu kali ini. Setelahnya, ia mempersilahkan seluruh warga yang terlibat untuk berkenalan: nama, alamat, hobi, dan profesi. Sembari berkenalan, warga ditemani oleh musik gambus yang kembali didendangkan oleh Bang Madun dan beberapa anak-anak. Waktu habis, sebagai Kepala Sekolah, Bang Madun memberikan tugas kepada warga yang terlibat. Warga yang ada di barisan sebelah barat (kiri) ditugaskan menjadi guru, sedangkan warga yang berada di barisan sebelah timur (kanan) ditugaskan menjadi murid. Mereka yang berperan sebagai guru diharuskan untuk mengajar pasangan bicaranya, tentu dengan ilmu pengetahuan yang dikuasainya masing-masing dan sesuai profesinya. Diantara pelajaran-pelajaran yang disampaikan saya sempat mendengarkan seorang anak mengajarkan teknik menjadi atlet badminton yang handal kepada warga yang lebih dewasa. Anak itu bernama Khairul Adam. Khairul mengajarkan apa-apa saja yang perlu dilakukan dalam bermain badminton, mulai dari melatih otot, hingga tata cara bermain dan teknik untuk memenangkan sebuah pertandingan badminton.

Bang Madun berputar-putar untuk memastikan tugas yang diberikan telah selesai dikerjakan. Setelah dipastikan semuanya selesai, kini Bang Madun membalik perannya. Warga yang ada di sebelah barat menjadi murid, dan warga yang di sebelah timur menjadi guru. Tugas yang diberikan masih sama. Karena penasaran, saya kembali menyimak kegiatan belajar mengajar dengan peran Khairul yang kini menjadi seorang murid. Tak disangka, selain gemar bermain badminton, ternyata Khairul juga memiliki minat untuk mempelajari video. Kebetulan, yang menjadi pasangan bicaranya adalah Muhammad Sibawaihi, salah satu kurator dalam kegiatan Bangsal Menggawe 2017. Siba memutuskan untuk mengajarkan Khairul ilmu tentang teknik kamera. Khairul tak sendiri, ketika ia mengajarkan Siba teknik bermain badminton, teman-temannya yang semula bermain-main turut bergabung dan membagikan tips-tips yang mereka ketahui tentang badminton. Kemudian, mereka juga dengan saksama menyimak ilmu yang dibagikan oleh Siba. Selain kedua materi ini, terdapat pula materi lain yang dibagikan oleh para peserta Sekolah Pasar Ilmu, misalnya teknik bermain lompat tali, bermain sepak bola, membajak sawah, bermain gambus, bermain gitar, memasak dan lainnya.

Di setiap sesi, warga yang terlibat juga diharuskan untuk membagikan pengalaman mereka ketika menjadi seorang guru dan murid kepada pasangan bicaranya. Hingga tiba juga kesempatan Bang Madun berbagi pengalaman. Bang Madun bercerita ketika ia masih duduk di Sekolah Dasar ia mengikuti perlombaan menyanyi. Dalam perlombaan tersebut Bang Madun menjadi Juara 1 dengan menyanyikan lagu “Bintang Kecil”. Pengalamannya tersebut mengantarkan Bang Madun menjadi seorang pegiat musik gambus handal sampai saat ini, selain menyanyikan lagu-lagu Bang Madun juga sudah mampu untuk menulis dan membuat lagunya sendiri.

Sekolah Pasar Ilmu akhirnya selesai tepat pada pukul 17.50 WITA setelah berjalan selama kurang lebih 1,5 jam. Kegiatan ini mengajarkan pada saya tentang bagaimana sebaik-baiknya ilmu pengetahuan tetap harus terus diproduksi, direproduksi dan didistribusikan kepada seluruh warga tanpa disekat-sekat batas usia, dipatok pada standar-standar yang dipaksakan—tanpa terkecuali. Keterbatasan tidak memiliki arti besar ketika kita mampu mengenali apa-apa saja potensi yang ada di sekitar kita. Tidak ada yang dapat memprediksi pelajaran tentang lompat tali akan mengantarkan salah satu warga menjadi atlet internasional, atau pelajaran membajak sawah akan menciptakan calon-calon petani yang mampu membuat negara kita berswasembada pangan tanpa perlu mengimpor beras, hingga pelajaran seni dan budaya lokal mampu membuat bangsa yang beraneka ragam ini saling memahami dan menghargai satu sama lain sehingga tetap berintegrasi sebagai satu bangsa. Sesi sekolah diakhiri dengan berfoto bersama sembari mengangkat sertifikat masing-masing yang telah ditandatangai oleh guru dan Bang Madun sebagai Kepala Sekolah. Terima kasih warga Pemenang dan sekitarnya, terima kasih Serrum dan Bangsal Menggawe 2017.

 

Dhuha Ramadhani. Lahir di Jakarta, 23 Februari 1995. Mahasiswa Kriminologi FISIP UI. Anggota komunitas Teater Paradoks FISIP UI dan Serikat Mahasiswa Progresif (SEMAR) UI. Saat ini aktif sebagai partisipan di AKUMASSA – Diorama, Forum Lenteng. Menulis di kalmirama.wordpress.com, pamer foto di instagram.com/klmrm.