Hari ini, saya berkeliling ria ke tempat ke kediaman para Kepala Dusun (Kadus) di Pemenang sekitar jam 14.00 WITA. Saya mendapat kabar dari kawanku bahwa para Kepala Kadus sudah memulai prosesnya membuat satu miniature bangunan. Warga Pemenang menyebutnya ‘Rengka’. Rengka, biasanya digunakan pada acara-acara keagamaan oleh warga sebagai wadah membawa sesajian sebagai suatu ungkapan terima kasih kepada sang pencipta dan bumi yang sudah memberikan rezeki kepada manusia.

Dengan zaman yang terus berubah, kegunaan itupun agar luntur akibat globalisasi. Warga Pemenang sering membuat acara-acara seperti perlombaan pawai ‘Rengka’, maksudnya agar warga tidak melupakan kebudayaan mereka sendiri dan sebagai bentuk literasi kepada generasi penerus.

Pada Bangsal Menggawe 2017, kami pun mengajak warga untuk ikut berpartisipasi dalam perhelatan Bangsal Menggawe tahun ini dengan membuat acara khusus yakni pawai ‘Rengka’. Kabar ini pun kami sebar kepada semua Kadus yang ada di Pemenang mereka pun merespon dengan baik. Sekitar jam 15.00 WITA, saya pun meluncur ke kediaman Kadus Karang Subagan Daya, ternyata mereka sudah mulai berproses. Burhan Kadus Karang Subagan Daya sebagai arsiteknya langsung, iapun mengajak semua warga ikut proses secara bergotong royong, yang hadir pun tidak hanya orang tua, tetapi anak sampai remaja pun ikut serta dalam merealisasikan ‘Rengka’ yang dibuatnya.

Satu persatu warga berdatangan dengan membawa alat yang dibutuhkan, suasana gotong royong pun terasa terlihat, keharmonisan mereka dalam dialog-dialog yang diluncurkan. Menurut keterangan Burhan Kadus Karang Subagan Daya, mereka sering bahkan setiap ada perlombaan ‘Rengka’, dusun mereka yang selalu menjadi pemenangnya. Mereka juga sempat membuat ‘Rengka’ Masjid Kuno yang ada di Bayan, Lombok Utara dan mendapat juara pertama dan terfavorit di tingkat kecamatan. Suatu kebanggaan mereka untuk terus melestarikan kebudayaan yang diwarisi nenek moyang. Beliau pun menerangkan, ‘Rengka’ yang dibuatnya untuk Bangsal Menggawe tahun ini, ‘Rengka Sambi’ namanya, sekitar tahun 70-an, ‘Rengka’ ini digunakan orang tua untuk menggantung hasil panen seperti padi bulu (padi yang belum di pisahkan dari pohonnya) dan lain-lain.

Sambi ini pun menjadi tempat penyimpanan hasil panen. Mereka begitu percaya diri dengan Rengka yang mereka buat, “tidak ada yang mengalahkan Rengka ini,” ujar mereka sambil tersenyum manis. Ungkapan itu sebagai bentuk tantangan terhadap Kadus-Kadus yang lain di Pemenang.