Senin, 30 Januari 2017, kurator dan direktur Bangsal Menggawe berencana mengunjungi beberapa tokoh yang ada di Pemenang, tidak lain tidak bukan untuk membicarakan Lombok Utara, Pemenang dan Bangsal Menggawe. Kami rasa ini penting untuk dilakukan, masukan dari para tokoh ini kami butuhkan sebagai bahan evaluasi dan pergerakan selanjutnya yang akan dilakukan bersama.

Sekitar jam 13.00 Wita, direktur Bangsal Menggawe Muhammad Rusli, Muhammad Sibawaihi (kurator), MG Pringgotono (kurator), Etika (fasilitator Bangsal Menggawe), Ahmad Ijtihad (fasilitator Bangsal Menggawe) Muhammad Gozali (Direktur pasirputih), berkunjung ke rumah Metawadi. Metawadi, salah satu tokoh masyarakat di Pemenang, selain itu juga, Metawadi aktif bergerak di Komunitas Kearifan Lokal Tebango (K2LT) komunitas ini bergerak di segala bidang, kesenian, kebudayaan dan lingkungan, banyak hal yang dibicarakan dalam pertemuan ini, berbicara mengenai fenomena sosial dan sampai membahas soal Pancasila.

Berbicara Bangsal Menggawe, pasti berbicara juga mengenai tema yang sudah diusung “Siq Siq O Bungkuk”. Menurut Metawadi, Siq Siq O Bungkuk bisa juga dikatakan sebagai manusia yang tidak kehilangan momen, menurutnya, momen ini berbicara banyak hal seperti momen kemanusian, momen waktu dan kejadian, momen segala hal dan banyak lagi yang berkaitan dengan saling menghargai dan saling menghormati perbedaan, saling membantu dan banyak lagi.

Mengenai Bangsal Menggawe, Metawadi juga memberikan masukannya mengenai  pola pergerakan, “jangan sampai Bangsal Menggawe ini hanya sekedar ceremonial belaka, acara selesai dan selesai semua proses yang lain. Bagaiman kemudian Bangsal Menggawe ini mampu memberikan banyak hal terhadap warga, misalnya meningkatkan nilai spiritual dan agar bagaimana warga yang  berbeda agama mampu bersinergi”, “saya dan Kearifan Lokal Tebango (K2LT) siap bersinergi” tambahnya. kami rasa ini sangat penting, masukan yang luar biasa, masukan ini akan menjadi evaluasi bersama apaagi berbicara kegiatan yang mengajak orang banyak dan berproses bersama, catatan ini akan mampu memberikan sinergi antara semua elemen yang ada di Pemenang, Lombok Utara bahkan Nusa Tenggara Barat (NTB). Kelihatannya obrolan ini semakin menarik saja sampai melupakan waktu, karena hari ini sudah terencana untuk bertemu beberapa tokoh di Pemenang, Lalu kami menutup pertemuan ini dengan berfoto bersama.

Metawadi

MG Pringgotono dan Muhammad Rusli mendengar cerita dari Metawadi

Muhammad Gozali dan Muhammad Sibawaihi

Metawadi menceritakan pengalamannya

Usai di rumah Metawadi, rombongan melanjutkan perjalanan ke Bangsal, selain melihat-lihat Bangsal, kamipun janjian ketemuan dengan Subhan dan Muliawan, kemudian kami duduk dan bersantai di Berugaq ngopi dan ngerokok tidak pernah lupa, yang selalu menjadi teman ngobrol dan diskusi dimanapun. Mengawali pembicaraan dengan membahas Bangsal, kemudian mulai menjurus ke soal Bangsal Menggawe. Muliawan da Subhan yang saat ini aktif di salah satu komunitas di Lombok Utara yakni Balant (Bina Lingkungan Wisata Terpadu), mereka memberikan banyak masukan juga mengenai Bangsal Menggawe dan tema “Siq-Siq O Bungkuk”. Kami menganggap kedua tokoh ini luar biasa dalam agenda kebersamaan dan saling berbagi, pasirputih juga sudah lama berhubungan dengan kedua tokoh ini.

Pembicaraan mengarah ke Bangsal Menggawe dan mencoba memecahkan tema “Siq-Siq O Bungkuk”, dalam pandangan Muliawan, kata Siq-Siq O Bungkuk merupakan bentuk penghormatan kita terhadap orang lain “Dulu Lombok memakai pintu yang pendek, melambangkan penghormatan terhadap empunya rumah, apabila hendak masuk rumah, maka kita akan menunduk sebagai tanda hormat kita terhadap pemilik rumah, lapang dada” jelas Muliawan. Selain membicarakan tema, kami juga membicarakan permainan Siq-Siq O Bungkuk, permainan tradisional ini sudah dilupakan oleh generasi sekarang dan terganti gadget.

Muhammad Gozali menjelaskan konsep Bangsal Menggawe 2017 dan Siq-Siq O Bungkuk

Obrolan menarik disini, namun waktu sudah mulai menembus senja. Setelah pertemuan ini, kami merasakan sedikit lapar dan sepertinya harus mencari tempat makan, yaaaa kami menuju ke salah satu warung bakso yang ada di seputaran Pemenang. Di tengah-tengah makan, MG Pringgotono ingin dipertemukan dengan salah satu tokoh di Pemenang, Mintarja namanya.

Mintarja merupakan salah satu tokoh yang masih aktif berkontribusi terhadap pergerakan di anak muda di Pemenang, ia juga masih aktif di Gerbong Toea, salah satu komunitas pergerakan tua muda yang masih aktif dan cukup berumur. Pada pertemuan dengan Mintarja, membahas banyak hal mengenai Bangsal Menggawe, lagi-lagi Bangsal Menggawe yang menjadi obrolan serius sambil bahagia.

Mintarja melihat tema “Siq-Siq O Bungkuk” berkaitan dengan kehadiran Gumi Tioq Tata Tunaq yang kurang lebih berusia 7 Tahun ini, Mintarja (tokoh masyarakat) yang menganalogikan KLU (Kabupaten Lombok Utara) sebagai seorang bocah kecil berkelamin wanita yang sangat lucu yang tengah asiknya bermain, kata “Siq-Siq O Bungkuk” ini pun terbit dari pembacaan tersebut namun syarat akan filosofi-filosofi  adab dan tata krama baik yang mengakar di masyarakat. Nilai yang menjadi filosofi tema yang disepakati ini menjadi pengingat bagi kita sebagai masyarakat agar dapat menjadi manusia-manusia yang beradab dan bertatakrama baik.

Diskusi di rumah Mintarja

Masukan dari beberapa tokoh ini sangat menarik dan ini menjadi PR kita semua, Bangsal Menggawe tidak hanya sekedar ceremonial belaka, tapi juga menjadi pemicu aktifnya masyarakat berdaya.