Pemutaran film karya Rainer Werner Fassbinder pada tanggal 16 Desember 2016 pada program Bioskop pasirputih, pada bulan spesial karya Fassbinder.

Setelah pemutaran film The Bitter Tears of Petra von Kant (1972), yang dibuat oleh Rainer Werner Fassbinder  berdurasi 124 menit. Kami melanjutkan dengan berdiskusi dengan Masha Ru, dia seorang teman berasal dari Rusia dan tinggal di  Amsterdam, Belanda, ada Imam Safwan salah satu sastrawan Lombok Utara dan beberapa partisipan pasirputih. 

Secara sederhana, kami membahas tentang bahasa visual yang berusaha disampaikan oleh Fassbinder dalam filmnya kali ini. Lewat narasi kecil yang dibangun pertama oleh Ghozali saat berdiskusi, membuat perbincangan kami perlahan mengklimaks dan membuka saluran-saluran ilmu tentang bahasa visual pada film tersebut.

Salah satu adegan dalam filem

Dalam diskusi ini Siba menganggap bahwa yang terpenting dalam sebuah film adalah, bagaimana seorang mampu menangkap “tanda” yang disuguhkan oleh sutradara sesuai dengan realitas yang terjadi dibalik pembuatan film, atau dalam bahasa sederhananya bahwa setiap frame atau beberapa frame/gambar mewakili satu kejadian, satu pesan yang secara khusus ingin disampaikan oleh sutradara, walau pada alurnya berkaitan antara yang satu dengan yang lain.

Sedangkan Imam lebih mengutarakan bahasa visual, tentang bagaimana kelihaian Fassbinder mengemas “tanda” dalam film ini, sehingga dalam tuturnya menjelaskan  bahwa, film Fassbinder ini sejatinya mendefinisikan strata sosial pada masa itu, sangatlah ditentukan  oleh uang dan bagaimana seorang Petra Vont Kant (tokoh utama) mewakili kehidupan kaum Borjuis pada era 1700-an di Jerman.

Malene sedang memasangkan sepatu kepada Petra

Petra Vont Kant

Masha Ru yang berasal dari benua Eropa mengatakan bahwa film The Bitter Tears of Petra von Kant memang mewakili realitas pada masa itu. Dari penjelasanya ia mengatakan bahwa Jerman merupakan negara yang masih kental dengan Rasisme, menganggap orang yang berkulit hitam lebih rendah dibanding dengan orang berkulit putih. Kalimat ini sebagai pendefinisian sebuahframe/visual ketika Petra dan Karin berdiskusi pada pertemuan kedua mereka dalam film tersebut.

Karine

Boneka yang terdapat di kamar Petra

Sementara anggapan saya pada awalnya, film ini tidak semenarik yang kawan-kawan bayangkan. Kawan-kawan menganggap film merupakan bagian dari pengarsipan sejarah dan perkembangan film dunia. Tapi .. semua terbantahkan ketika film ini sampai pada menit-menit pertengahan, dimana si Petra mulai didatangi oleh seorang temannya yang bernama Sidhoni  (salah satu nama aktris pada film) dan ia memperkenalkan Karin kepada Petra, mengenai kedatangan Karin berkunjung ke Jerman untuk mengembangkan karirnya.

Saya mengakui bahwa diantara sekian film yang pernah saya tonton, film The Bitter Tears of Petra von Kant adalah film paling jujur jika ditelik dari gagasan cerita yang dibangun oleh Fassbinder dari ranah psikologis, ialah dimana  cinta mampu memperdaya seorang bahkan hingga ia lupa diri, bahkan “kerennya” film ini, kita disuguhkan dengan visual yang sarat pesan yang perlu diencod– oleh penonton, seperti banyaknya patung-patung dan boneka-boneka tanpa busana yang ditampilkan, serta bloking kamera yang apik. Selain itu Masha juga sepakat bahwa ia memandang film ini dari ranah psikologi seorang penonton dalam menanggapi pesan dalam sebuah film.

Sidonie

Menarik benang merah dari film The Bitter Tears of Petra von Kant (1972) yang dibuat oleh Rainer Werner Fassbinder adalah tentang kedisiplinan kamera yang merekam gambar walau hanya pada satu ruangan saja, namun dapat menciptakan alur cerita yang syarat akan pesan/tanda yang mesti dide-code oleh penonton tentang bahasa visual/gambar yang disuguhkan.

Dan kami pun menyudahi diskusi dengan habisnya secangkir kopi yang kami buat beberapa puluh menit setelah pemutaran film The Bitter Tears of Petra Von Kant yang kami tonton malam ini.