Aku masih ingat saat Siba, salah seorang partisipan pasirputih sempat cerita kepadaku waktu dia balik dari Jakarta Biennale 2013. Siba menuturkan bahwa ada juga Koki yang mengikuti pameran tersebut. Bahkan ada beberapa peserta yang notabenenya bukan seniman. Sejak saat itu aku berpikir-pikir bagaimana itu bisa terjadi? Pada ujung mana pertemuannya? Dimana posisi seni dengan bidang yang lain, maupun sebaliknya? Yang aku rasa, sebagai orang awam tentang seluk beluk dunia seni tentu aku kebingungan dan penuh tanda Tanya. Dan memang aku hanya ingin bercerita tentang perkenalanku dengan seorang teman yang menggeluti bidang sains.

Masha Ru

Jum’at, 16 Desember 2016, sekitar pukul 11.30 WITA, Masha Ru, salah seorang Saintis yang berasal dari Rusia yang kini tinggal di Amsterdam, Belanda, datang berkunjung ke Pasirputih. Dia datang sendiri dan disambut oleh partisipan Pasirputih. Sembari berkenalan, kami berdialog dengan Masha Ru tentang Pasirputih dan Pemenang. Tidak lupa juga kami mempresentasikan program Bangsal Menggawe yang sebentar lagi akan berlangsung. Obrolan kami terputus untuk melaksanakan ibadah Sholat Jum’at.

Setelah kelas berbagi Bahasa Inggris, kami menikmati senja di Pelabuhan Bangsal. Sirkulasi massa yang hilir mudik mewarnai visual Bangsal pada tiap detiknya. Kami melangkah menuju ujung dermaga dan Masha Ru menawari aku sesuatu “You want ?”. Aku terheran-heran melihat barang yang ditawarkan kepadaku. “Ini kue tanah, Ampo namanya.” tuturnya jika diartikan dalam Bahasa Indonesia. Dengan rasa penasaran, aku mengambil batangan kecil dan mencicipinya, dan wow… rasanya aneh. Iya rasanya pasti rasa tanah, tapi agak aneh dan membingungkan, karena dalam pikiranku terbayang rasanya mungkin manis seperti gula atau cokelat, atau mungkin pahit seperti obat. Menurut penuturan Masha, kue tanah itu ia dapatkan dari pasar tradisional di Jawa dan sudah sulit ditemukan. Dari sekilas obrolan di Bangsal itu aku tahu kalau Masha Ru memfokuskan risetnya mengenai tanah.

Labuhan Bangsal

Sabtu sore, 17 Desember 2016, Masha Ru Presentasi di Pasirputih. Presentasi itu dihadiri oleh partisipan Pasirputih, teman-teman BON dan beberapa Mahasiswa IAIN Mataram. Masha Ru memiliki latar belakang pendidikan Matematika. Dan saat ini, ia akan lebih mempresentasikan project yang membuat dia bisa datang ke Indonesia, project yang berkaitan dengan Tanah. Masha menunjukkan sebuah foto makanan tradisional terbuat dari tanah yang berusia sangat tua dan masih bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional di Jawa. Bahkan banyak juga kepercayaan masyarakat terkait memakan tanah. Masyarakat meyakini dengan memakan Ampo menyuburkan reproduksi perempuan.

Tradisi ini tidak hanya ada di Indonesia, tapi juga di Suriname, Nigeria, dan Ghana. Banyak negara di Afrika masih terdapat tradisi memakan tanah. Sedangkan di Eropa menjadi tradisi yang dilupakan. Masha Ru juga memperlihatkan sebuah foto makanan dari tanah yang bernama Terra Sigillata. Terra Sigillata merupakan sebuah tablet yang terbuat dari tanah suci dari Yunani dan dinikmati ketika selesai makan (makanan penutup) yang harganya setara dengan emas. Foto yang lain yaitu Gereja di Palestina bernama “The Milk Grotto” memiliki goa yang dalam sejarahnya Nabi Isa dan Maryam pernah berada di goa tersebut yang ketika menyusui Isa, air susunya mengenai tanah di goa tersebut. Sehingga diyakini bahwa tanah ini baik untuk perempuan yang mandul.

Masha Ru juga memperlihatkan beberapa artikel tentang penelitian terkait zat mineral dan kimia yang ada di tanah, termasuk di Jawa. Tanah juga memiliki daya serap, dia juga dapat menyerap racun, tapi tidak semua tanah bisa seperti itu. Ada beberapa elemen zat dalam tanah yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia.  Tapi di tanah juga ada zat beracun yang berbahaya.

Bahkan Masha Ru juga memperlihatkan beberapa foto pamerannya yang juga berkolaborasi dengan seorang temannya yang menjadi Koki/ chef Dina Roussou, dan juga saat pameran tersebut, berkolaborasi dengan Alghorie (Jatiwangi Art Factory). Masih menurut cerita Masha Ru, ada pengunjung menilai bahwa yang dia lakukan adalah pameran sains ketika melaksanakan pameran seni. Ada juga pengunjung yang menilai bahwa yang dia lakukan adalah pameran seni, ketika pameran sains yang waktu itu diadakan di Amsterdam-Belanda.

Claynialims (2015). Kolaborasi Alghorie (JaF), Atelier NL dan Masha Ru. Age of Wonderland programme, Dutch Design Week

Claynialims (2015). Kolaborasi Alghorie (JaF), Atelier NL dan Masha Ru. Age of Wonderland programme, Dutch Design Week

Eat*a*ble (Tanah Yang Bisa Dimakan) 2013 oleh Masha Ru. Foto oleh Gert-Jan van Rooij

 

Claynialims (2015). Kolaborasi Alghorie (JaF), Atelier NL dan Masha Ru. Age of Wonderland programme

Dari pengalaman Masha Ru terlihat betapa Seni dan Sains berpadupadan menyikapi gejala-gejala sosial yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Menghadirkan aktifitas dan produk kreatif yang tidak jauh dari aktifitas dan realitas masyarakat. Disisi lain aspek pengetahuan dan kebudayaan menjadi sangat menonjol dan memiliki warna yang unik.