Kalau kita akan berbicara tentang bahasa sinema ataupun wajah perfilman indonesia dewasa ini, sangat sulit saya ungkapkan dalam kuratorial ini. Tetapi setelah saya membaca buku D.A. Peransi saya menemukan masalahnya. Dalam bukunya, Film/Media/Seni, D.A Peransi meyatakan bawah wajah film Indonesia atau identitasnya sangat sulit untuk di ungkapkan. Di Negara lain seperti Jerman, Italia atau Amerika Serikat, yang riwayat perfilmannya hanya 10 atau 15 tahun lebih dulu di bandingkan dengan Indonesia, identitas atau bahasanya filmnya sudah dapat kita rumuskan. Kesulitan pada kasus Indonesia disebabkan karena film Indonesia tidak pernah mendapat kesempatan menjadi industri seperti halnya di negara lain.

Produksi film tidak dapat dibayangkan tanpa memperhitungkan besar konsumen yang akan menerimanya, itu sebabnya pengelolaan industrial sangat penting karena akan merunut pada manageman, visi, keterampilan yang baik.

Berbicara tentang sinema Indonesia sebenarnya sudah ada  seperti karya-karya Usmar Ismail yang sering diperbincangkan. Meski sebenarnya, sebelum karya Usmar Ismail, banyak film yang sudah diproduksi oleh para pembuat film Indonesia. Seperti misalnya film Bactiar Siagian, sutradara dan seniman Lekra yang paling misterius. Pasca-peristiwa G30SPKI karya-karya filmnya di bumi hanguskan. Selepas Orde baru karya-karya pengiat Lekra kembali hadir di khlayak ramai.

Film-film yang mendominasi layar kaca dewasa ini adalah film tentang percintaan antara laki-laki dan perempuan walaupun kecintaan kepada kedua orang tua. Ceritanya sederhana sekali, untuk mendapatkan cinta biasanya ditemukan secara kebetulan, saat riset, di bar bahkan di masjid. Kita akan di temani dengan dialog-dialog yang romantik dan puitis. Kisah cinta biasanya berupa perempuan dari kampung datang ke kota bertemu dengan laki-laki kaya. Dari pertemuanya timbul rasa cinta yang kemudian mengantarkan mereka ke pelaminan. Tidak hanya itu, perebutan harta pun selalu hadir di layar kaca. Misalnya orang tua si laki-laki tidak setuju anaknya menikah dengan perempuan yang miskin. Dengan seger, orang tua si laki-laki mencarikan jodoh untuk anaknya, perempuan lain yang mempunyai harta atau warisan yang melimpah.

Sejauh ini, pandangan saya tentang perfiman Indonesia di layar kaca ceritanya hanya seputar hal-hal tersebut. Meski sebenarnya, hal ini sudah dikemukakan oleh Peransi dalam bukunya, yang mengkritisi sebuah festival film Indonesia tahun 1976 yang didominasi oleh film dengan tema Cinta.

Sampai sekarang sangat terlihat, dimana setiap film yang disajikan di layar kaca kebanyakan film-film tentang cinta dan perebutan harta. Film-film ini yang terus di konsumsi masyarakat, yang ditayangkan pelaku media massa dengan mementingkan aspek komersil daripada  pengetahuan.

Saya bisa katakana, bahwa sebenarnya ada dilemma antara apa yang ingindisampaikan oleh sutradara dalam filmnya, dengan apa yang ingin disampaikan media-yang lebih mementingkan aspek komersil. Kadang, apa-apa yang ingin disampaikan oleh sutradara, tidak sesuai dengan pasar yang ingin dibentuk oleh media. Sementara, para sutrada cenderung mengikuti selera pasar daripada mementingkan edukasi dan bahasa sinema, atau cita-cita bahasa film Indonesia dalam rangka menemukan jatidirinya.

Seperti yang dikemukakan Misbach Yusabiran, “Sebagai karya seni dan produk budaya, fungsi film tidak hanya untuk menghibur tapi juga seharusnya mejadi sumber ilmu pengetahuan yang mempunyai nilai sejarah yang tinggi.”  (kinescopemagz.com).

Melalui bioskop kali ini, kami hanya bisa mengurangi film-film yang setiap waktu ditonton di layar kaca. Bioskop akan menayangkan film-film yang kami anggap baik  memberikan pengetahuan tentang sejarah sinema film Indonesia. Bioskop Pasirputih sebagai pendistribusi pengetahuan melalui film dan bahasa visual memberikan tontonan yang baik bagi masyarakat memberi ruang alternatif atas beragam tontonan yang ‘hanya itu-itu saja’, di layar kaca Indonesia.

Kami menghadirkan film di tengah-tengah masyarakat, mengajak warga bernostalgia, mengenang bioskop, Misbar (Gerimis Bubar) dan budaya menonton pada masa lalu, sembari ngobrol bareng dan menjalin tali silaturrahmi.

Film-film yang akan tayang di Bioskop Pasirputih antara lain, karya dari Asrul Sani, Djayakusuma, Misbach Yusabiran dan Teguh Karya.

Asrul Sani

Asrul Sani

Apa Jang Kau Tjari, Palupi (Asrul Sani,1969) berbicara tentang seorang perempuan yang bosan dengan suaminya yang super sibuk. Kebosanannya mengajak kita ke ruang-ruang kehidupan masyarakat. Asrul Sani  memposisikan Palupi-yang selalu gonta-ganti pasangan- sebagai pembawa cerita dan kabar. Palupi berganti pasangan untuk memuaskan hasratnya, dimulai dari hubungannya dengan seorang penulis (suaminya dalam film), seorang sutradara (teman suaminya) hingga pegusaha. Membawa kita menyusuri ruang-ruang masyarakat. Dari setiap laki-laki yang berjalan bersamanya, terdapat banyak isu-isu terkait dengan kehidupan kita saat ini.

Djadoeg Djajakusuma

Djadoeg Djajakusuma

Sedangkan Djayakusuma, setiap karya filmnya mengangkat narasi-narasi kecil di dalam masyarakat seperti apa yang akan kita saksikan pada filmnya, Pak Prawiro (1958).  Film ini menceritakan tentang seorang laki-laki tua (Pak Prawiro) yang sangat mencintai adat kebudayaannya. Seperti main wayang, menyair dan lain-lain. Dapat kita katakan film karya Djayakusuma sangat dekat dengan masyarakat. Dari narasi-narasi kecil tersebut bisa membicarakan hal-hal besar.

Misbach Yusa Biran

Misbach Yusa Biran

Film Karya Misbach Yusabiran, Di balik Tjahaya Gemerlapan (1966). film ini bercerita tentang kisruh para seniman yang akan mempertunjukan karya seni kepada publik. Djoni (actor dalam film), sebagai promotor seniman, sering kali menipu seniman. Dengan kelebihannya merayu akhirnya diapun dipercaya untuk mengatur setiap pertunjukan, meski sering menipu. Dalam sebuah garapan, ia mengatur pertunjukan secara semraut. Selama perjalanan, banyak sekali cekcok antar seniman. Film ini mengisahkan suka-duka di balik panggung meski terlihat sukses dalam pertunjukannya. film ini mendapat penghargaan di Festival Apresiasi Film Nasional tahun 1967.

Teguh Karya

Teguh Karya

Film berikutnya karya dari Teguh Karya yang judulnya Secangkir Kopi Pahit (1983). Film ini bercerita   tentang seorang pemuda bernama Tegar merantau ke kota Jakarta untuk mengadu nasibnya. Setibanya di Jakarta, dia bekerja sebagai buruh mengangkat semen. Berkat bantuan temannya, Buyung, ia sempat bekerja menjadi wartawan. Sayangnya pekerjaannya tidak cakap dikerjakan. Kehidupan di Jakarta ternyata begitu kompleks dan menyebabkan Tegar terlibat berbagai masalah. Film ini adalah film yang ceritanya melodrama. Tapi jangan samakan melodrama Teguh Karya dengan roman picisan banjir air mata dan penderitaan. Teguh Karya lebih memasukkan nilai-nilai sosial, budaya dan politik.