Malam ini, Bioskop pasirputih menayangkan dua film, film “Melodi Cinta”, film dari  H. Rhoma Irama , film kedua yaitu film, “Cermin Yang Retak”(2012), karya Sanggar Bambu bekerja sama dengan pasirputih.Kali ini, Bioskop  pasirputih menayangkan film di Dusun Teluk Dalem, Desa Medana, kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Masyarakat yang hadir cukup banyak sampai-sampai tempat duduk yang di sajikan oleh Pak Surya dan Fikri, terisi penuh oleh warga. Sesekali warga yang duduk di dekatku bercerita tentang pengalaman yang pernah beliau rasakan saat masih Sekolah Dasar (SD), sekitar tahun 90-an. Di tengah keseriusan semua warga menyaksikan film ”Melodi Cinta”, beliau menceritakan bahwa film yang diputarkan ini mengigatkannya dengan masa-masa kecil saat menonton di Misbar (Gerimis Bubar) kala itu. Lokasi-lokasi yang sering menjadi tempat Misbar banyak sekali, seperti di Kecamatan Tanjung, Kecamatan Pemenang dan sebagainya (sebelum menjadi Kabupaten Lombok Utara). Beliau sangat aktif untuk pergi menyaksikan film yang disajikan di Misbar, sampai-sampai rela berjalan kaki ke Pemenang yang jaraknya cukup jauh dari rumahnya di Teluk Dalem Keren, Desa Medana, Kecamatan Tanjung. Sayangnya, saya tidak menanyakan nama bapak tersebut. Semakin lama menyaksikan keseruan kedua film tersebut dengan ditemani kesunyian dan tawa para warga, emosi saya berubah seketika melihat warga yang kelihatan bahagia, karena di siang harinya mereka bekerja, saya rasa film ini mampu mengurangi kelelahan mereka kalau saya lihat dari tawa mereka.

jkiu

Pengantar oleh Ahmad Rosidi

Film kedua, merupakan film yang digarap pada tahun 2012, Sanggar Bambu bekerja sama dengan pasirputih. Film ini mengangkat fenomena social yang terjadi saat itu, menurut dari diskusi dengan pasirputih mengenai film ini adalah, dilator belakangi dengan kondisi masyarakat yang saat itu rawan dengan pernikahan di bawah umur. Naskahnyapun diambil dari karya cerpen yang dibuat oleh siswa Pondok Pesantren, Tarbiatul Islamiah, Kopang, Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara. Pemerannyapun dari siswa dan guru di pondok pesantren tersebut.

gtg

dc08339c-5903-439d-be50-c92d87a21e07

Tidak heran kemudian, masyarakat bersorak ketika melihat pemeran-pemeran di film tersebut. Karena lokasi Bioskop pasirputih saat ini di halaman rumah salah satu pemeran film, yaitu pak Fikri, yang berperan sebagai ayah dari Nur (nama aktris dalam film Cermin Yang Retak).

Durasi film tersebut terhenti menandakan filmnya selesai, kamipun bergegas merapikan alat-alat yang dibawa agar tidak tergesa-gesa nantinya. Lima menit kami merapikan alat, Pak Surya dan Fikri, memanggil kami untuk beristirahat sejenak sambil menyuguhkan kopi dan cemilan. Pak Surya pun bercerita tentang pengalamannya menonton film di Misbar. “Dulu, sebelum DVD dan Televisi masuk ke tempat kami tinggal ini, kami selalu pergi nonton film ke Misbar-Misbar di Lombok Utara”, katanya. Saat itu Pak Surya masih kecil (masih sekolah) selalu hadir dalam penayangan film yang  di Misbar-Misbar. “Saat itu sangat ramai sekali, para warga berbondong-bondong pergi ke Misbar untuk menyaksikan film seperti jaka suara, film-film kolosal, dan film aksi laga”, tambahnya.  Cerita dilanjutkan, “Setiap film tersebut, di bagi menjadi tiga ronde pemutaran, yang paling sering diputar adalah film Jaka Suara (film-film Rhoma Irama). Seminggu sebelum pemutaran, para pekerja Misbar mengumumkan film yang akan diputarnya, sehari sebelum acara pemutaran film, para pekerja membagikan reklame (poster) yang sudah  difotocopy. Semua warga berkumpul dipinggir jalan ketika tukang Misbar itu terdengar suaranya dari kejauhan, tujuan para warga menanti kedatangan petugas Misbar untuk mendapatkan reklame atau poster tersebut, karena saat itu, ketika sudah mendapatkan reklame, warga merasakan dirinya paling tinggi atau gagah dan kren. Harga karcis untuk masuk Misbar saat itu, sekitar Rp.150”. Karena pak Surya masih kecil, beliau sangat cerdik, dengan sengaja menunggu penonton membeli karcis, saat itu juga aksi berpura-pura sebagai anak semenit digunakannya, akhirnya beliaupun dapat masuk dan menyaksikan film tersebut, anak kecil dibolehkan masuk, asalkan bersama keluarga atau orang tuanya, dan Misbar mulai gratis, saat film sudah setengah film. “Para penonton film yang menunggu film selanjutnya”. Lalu, Pak Surya menirukan suara penjual tiket di loket, “Bagi para pengunjung dipersilahkan menuju loket kami di sebelah barat terima kasih”.

Pak Surya saat itu masih duduk di bangku sekolah dan dipondok pesantren karena pondok pesantren saat itu tidak membolehkan santrinya untuk keluar dari pondok. Tata tertib itu tidak menghentikan langkah Pak Surya untuk pergi ke Misbar, karena saat itu film yang akan ditayangkan adalah film kesukaannya. Berbagai strategi yang digunakan bersama teman-temannya, akhirnya beliau berhasil walaupun paginya dihukum. Waktu itu, Misbar hadir setiap hari Rabu dan malam Sabtu. Sebelum waktu malam tiba, banyak para pemuda mencari kelapa untuk dijual, agar bisa mendapatkan uang untuk membeli karcis dan neraktir pacarnya. Harga satu kelapa saat itu, bisalah membeli karcis beserta neraktir pacara. Banyak warga yang memanfaatkan momen pemutaran film tersebut untuk mencari nafkah dengan berjualan. Di Lombok Utara, bioskopnya berada di  Kecamatan Tanjung, penonton yang berkunjung kesana adalah orang-orang yang memiliki uang banyak. Apabila sudah masuk ke bioskop kala itu, kita merasakan bahwa kita adalah orang terkeren. Saat akan dimulainya pemutaran, para penonton sangat tertib, mereka tidak diatur, merekanya sendiri mengatur diri membuat barisan agar semuanya bisa menonton dengan tenang, para penonton duduk manis, yang dibolehkan berdiri saat itu penonton-penonton yang berada dibarisan paling belakang. Saat film diputar, semuapenonton terdiam seketika tanpa ada suara sediktpun karena kehusu’an mereka menyaksikan aksi-aksi para pemain film tersebut. Ketika sponsor lewat baru semua penonton ribut, sibuk sendiri, dan para pedagang asongan beraksi menawarkan barang dagangannya, kalau tidak salah, itu yang saya dengar dari cerita Pak Surya.

m

Ngobrol asyik usai bioskop

Jam sudah menunjukkan 11.00 wita, akhirnya kami pamitan dengan pak Surya, Fikri dan warga untuk kembali ke kantor dengan mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya dan sampai jumpa dilain kesempatan.