Biasanya setiap akhir pekan, aku dan keluarga ku (Mamak, Bapak dan kedua adik ku) menghabiskan waktu ke Kerujuk. Kerujuk adalah tempat lahir Mamakku, disana beliau  dilahirkan dan dibesarkan. Di Kerujuk kami biasa kerumah kakak Mamak ku, yaitu Mak Kaka Idris. Mak Kaka, adalah sebutan kami untuk  paman.

Kerujuk adalah salah satu dusun di Desa Persiapan Menggala, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Baru-baru ini, Kerujuk dikenal dengan kampung wisata karena di Kerujuk sedang dibangun Ekowisata dalam bentuk kolam-kolam pemancingan dan akan disusul dengan pembuatan Outbond. Pada awalnya, kolam-kolam  yang sudah diresmikan tersebut difungsikan sebagai kolam berenang, tetapi menurut penuturan Pak Rajab, memang dalam draft pembangunan, kolam-kolam tersebut memang akan dijadikan kolam pemancingan. Pak Rajab merupakan penjaga kolam pemancingan yang resmi di buka pada tanggal 16 November 2015 tersebut.

Kolam Induk. Kolam Pemancingan di Dusun Kerujuk.

Kolam Induk. Kolam Pemancingan di Dusun Kerujuk.

“Man, tanggal pira se a ya kete Gubernur piran no?” (Pak, tanggal berapa Gubernur datang kesini bebarapa waktu yang lalu?) ”, tanya ku kepada Pak Rajab.

“Dua minggu sedek man sik resmiang kolam pemancingan ne ya dateng. Nah, tanggal 16 Novermber 2015 ono ya sik resmiang kolam ne sik Bupati. Pokok a jelo minggu ya kete no.” (Dua minggu sebelum diresmikannya tempat pemancingan ini Gumbernur datang, tanggal 16 November 2015 tempat ini diresmikan oleh Bupati. Pokoknya seingat saya, Gubernur datang pada hari minggu)”,jawab Pak Rajab sembari mengingat-ingat tanggal kedatangan Bapak Gubernur NTB ke kolam pemancingan tersebut.

“Napi se sampaiang pas kete Gubernur no man?” (Apa yang disampaikan Gubernur padaa saat berkunjung pak?)”.

“Be ya jiga nambah fasilitas kon pembangunan Ekowisata ene, ya jiga meak outbond, panjat tebing dit anuk lain.” (Gubernur akan menambah fasilitas di tempat Ekowisata ini, akan dibuat outbond, panjat tebing dan yang lain.)

“Oh, sai peang tanak kon bangun kolam-kolam dit outbon niki man?” (Oh, Siapa yang punya tanah tempat dibangunnya kolam-kolam dan outbond ini Pak?)”, tanyaku lebih lanjut.

“Be loek epeang, termasuk ita.” (Banyak yang punya, termasuk saya sendiri.)”.

“Oh, beli sik pemerintah kuto tanak niki?” (Oh, berarti tanah-tanah ini dibeli oleh pemerintah Pak?)”.

“Dek, sistem kerjasama se tan nya antara pemerintah kanca epen tanak.” (Bukan. Sistem kerjasama yang digunakan antara pemerintah dengan yang punya tanah.) Jawab Pak Rajab dengan tegas.

“Terus kumbek se tanggapan masyarakat ite tentang pembangunan niki man?” (Terus bagaimana tanggapan masyarakat Kerujuk tentang pembangunan Ekowisata disini Pak?)

“Ba… Syukur ta pada masih. Sengak ada lapangan pekerjaan baro.” (Ya… Kita bersyukur. Karena ada lapangan pekerjaan baru.) Jelas Pak Rajab sambil menunjukkan mimik senang diwajahnya.

Beberapa kolam kecil di sekitar Kolam Induk.

Beberapa kolam kecil di sekitar Kolam Induk.

Masyaraka Kerujuk sebagian besar memiliki mata pencaharian sebagai seorang petani, ada yang bekerja di sawah dan ada pula yang pergi ke kebun. Tidak heran, karena Kerujuk masih sangat asri dengan sawah yang melentang luas dan pegunungan-pegunungannya. Di Kerujuk kebanyakan besar para orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah yang berbasis agama, seperti menyekolahkan anaknya ke Pondok Pesantren atau Madrasah. Contohnya Mak Kaka Idris. Beliau menyekolahkan anak perempuannya di salah satu Madrasah di Kecamatan Pemenang agar anaknya memiliki pengetahuan agama dan mampu menjaga dirinya dari pergaulan.

Di Kerujuk masih sangat minim pembangunan infrastruktur yang mendukung proyek Ekowisata yang sedang dibangun di dusun ini. Seperti misalnya,  keadaan jalan di Kerujuk, jalan menuju lokasi Ekowisata, yang rusak parah. Belum adanya layanan kesehatan dan  belum berkembangnya wira usaha masyarakat. Tidak kalah penting adalah sumber daya manusia yang mendukung Ekowisata tersebut dan kondisi masyarakatnya. Berdasarkan dialog yang saya lakukan dengan Bapak saya sendiri, selaku masyarakat, yang istrinya berasal dari Kerujuk, tentang pembangunan Ekowisata ini. “Pak apa saja yang menunjang pelaksanaan Ekowisata di Kerujuk?” Tanya ku pada Bapak.

Kondisi jalan di Dusun Kerujuk. Jalan satu-satunya menuju kawasan Eko Wisata Kerujuk.

Kondisi jalan di Dusun Kerujuk. Jalan satu-satunya menuju kawasan Ekowisata Kerujuk.

“Menurut saya, yang paling penting adalah kualitas manusianya. Karena kalau masyarakat di Kerujuk tidak berpendidikan dan tidak memiliki keahlian pada bidang-bidang Ekowisata yang sedang dibangun, maka masyarakat kerujuk hanya akan menjadi buruh. Seharusnya masyarakat Kerujuk bisa menjadi pengelola Ekowisata tersebut secara mandiri. Dan juga sarana dan prasarana di Kerujuk belum memadai untuk dibangunnya Ekowisata, seperti jalan yang rusak parah apalagi  pada musim penghujan, tidak adanya pusat belanja atau ekonomi masyarakat dan tidak adanya layanan kesehatan di Kerujuk”.

Kondisi jalan di Dusun Kerujuk saat kendaraan melintas.

Kondisi jalan di Dusun Kerujuk saat kendaraan melintas.

Menurut penuturan pak Rajab, jalan yang rusak tersebut akan mulai diperbaiki tahun 2016 ini, namun belum pasti kapan pelaksanaannya. Jalan di Kerujuk sudah pernah diperbaiki pada tahun 2002 tetapi tidak merata, hanya dilapisi dengan campuran semen, pasir dan kerikil untuk menghilangkan jalan berlumpur. Sekarang jalan tersebut sudah tampak banyak lubang dan berlumpur kembali.

Pembangunan Ekowisata di Kerujuk menurut kontrak akan berlangsung selama 20 tahun kedepan. Dan apabila usaha kolam-kolam dan outbond tidak berhasil, maka pola Ekowisata akan diubah. Demikian menurut ketrangan dari Pak Rajab. Selama 20 tahun pembangunan Ekowisata di Kerujuk, diharapkan sejalan  dengan pembangunan SDM dan infrastruktur di dusun tersebut. Bukan hanya perbaikan jalan yang di laksanakan, tetapi kesiapan mental masyarakat kerujuk dan tingkat pendidikan masyarakat kerujuk juga sangat menunjang kesempatan masyarakat untuk mengelola sektor wisata di daerahnya sendiri.