Saat itu aku sedang duduk di sebuah berugaq yang berada di depan rumahku. Rumahku sendiri berada di Dusun Jelantik, Desa Dangiang, Kecamatan Kayangan. Secara geografis, Dusun Jelantik berada di pelosok dan memiliki struktur tanah yang sangat subur. Berbagai jenis tanaman tumbuh subur di dusunku ini. Masyarakat di dusunku rata-rata bekerja sebagai petani, peternak, dan pengusaha. Salah satu usaha yang saat ini lagi populer di dusunku yaitu pembuatan keripik singkong.

Saat aku  sedang duduk merenungkan masa depan, beberapa saat kemudian,  bapakku datang membawa singkong dari ladang. Bapakku masuk ke dapur dan mengambil pisau untuk mengupas singkong tersebut. Seperti biasa, aku, kakak dan adikku pun bergegas membantu agar pekerjaan beliau tidak terlalu berat. Kami pun memposisikan diri masing-masing sesuai pekerjaan yang sudah biasa kami lakukan. Kakakku mencuci singkong yang sudah dikupas, kemudian membawa singkong yang sudah dikupas tersebut ke berugaq untuk diiris tipis, menggunakan alat yang sudah ada. Nah, aku sendiri bertugas untuk mengiris singkong yang sudah dikupas dan dicuci tersebut, sambil duduk di atas berugaq.  Adikku yang biasanya bertugas menjadi pembeli bungkus keripik ke toko yang terletak di Desa Dangiang Timur, saat keripik siap dibungkus, biasanya dia ikut membantu bapak mengupas singkong yang belum dikupas.  Sedangkan Ibukku meposisikan dirinya di tempat penggorengan, yakni di dapur. Singkong yang sudah dikupas, dicuci dan diiris dengan irisan yang tipis, kemudian digoreng oleh ibuku dengan racikan bumbu yang khas.

DSC_000572

Sebelum akhirnya yang sudah digoreng tersebut dibungkus, demikianlah proses-proses yang kami lewati. Semua dikerjakan dengan rapi, bersih dan dipadukan dengan bumbu dahsyat ala ibuku. Demikian, agar singkongnya menjadi gurih, lezat dan enak dikonsumsi oleh pembeli. Kesibukan itupun tidak terasa berat bagi kami, karena kami melakukan pekerjaan ini dengan suka rela dan dengan bekerjasama. Kami bekerja serius, apalagi singkongnya akan segera dibawa pengepul. Oleh pengepul keripik singkong yang dibuat keluargaku disebar ke berbagai  tempat di Lombok Utara.

Ibuku dibantu tetangga menguas kulit singkong.

Ibuku dibantu tetangga mengupas kulit singkong.

DSC_000576

Bahan-bahan untuk membuat keripik singkong ini tidak terlalu sulit dicari. Bahan dasarnya singkong itu sendiri, kemudian kita menyiapkan minyak, dan bumbu-bumbu yang bisa kita racik sendiri. Cara membuat keripik ini pun tidak terlalu susah. Hanya saja, untuk mengerjakannya kita harus fokus, karena alat pengupas, pemotong, dan pengorengan itu lumayan berbahaya. Bapak memberitahu kami untuk selalu berhati-hati dalam mengerjakan pekerjaan ini, karena beliau sudah sering tergores oleh pisau. Aku pun berhati-hati mengerjakan setiap tugas yang aku jalani. Terkadang, ibuku juga menceritakan pengalamannya menggoreng singkong selama ini, “Aku bae goreng ambon ne tetepku te tepelus sik minyak ne. Anggkak kamu pade adeng-adeng ntan.” (Setiap menggoreng singkong, saya selalu terkena cipratan minyaknya. Makanya kalian harus berhati-hati!). Dari nasehat-nasehat tersebut, kami pun  melakukan pekerjaan dengan penuh kehati-hatian, karena mengikuti anjuran kedua orang tua kami.

DSC_000579

Alat untuk mengiris singkong.

Alat untuk mengiris singkong.

Suatu hari, sekitar lima menit aku memotong  singkong, ibu memanggilku agar memindahkan singkong yang sudah digoreng untuk kemudian dibungkus, “Oka! bait ambon sak uah tegoreng ne, senggak uah loek ne!” (Oka! ambil singkong yang sudah digoreng, sudah banyak,nih!).

Aku meminta adikku untuk membungkus singkong yang  kubawa tersebut  agar  tidak terus-terusan terkena udara lalu menjadi tidak renyah lagi. Adikku membungkus singkong yang sudah digoreng, dibantu bapak.  Saat aku sedang bersantai di berugaq, ada seorang  warga yang datang ke rumah untuk membeli keripik. Sembari menunggu ibuku mengambilkan bungkusan singkong di dalam rumah, diapun membantu adik dan bapakku membungkus keripik itu. Memang, sesekali pembeli ikut membantu kami membungkus keripik, tanpa mengharap imbalan. biasanya ibu memberinya bonus sebungkus keripik untuk di bawa pulang sebagai ucapan terima kasih.

Singkong yang sedang digoreng.

Singkong yang sedang digoreng.

Seorang pengepul yang menyebarkan produk keripik singkong keluargaku.

Seorang pengepul yang menyebarkan produk keripik singkong keluargaku.

Usaha pembuatan keripik ini adalah usaha baru keluarga kami. Modal usaha ini, dari kedua orang tuaku. Sebelum usaha keripik ini berjalan, dulunya orang tuaku mejadi Tenga Kerja Indonesia (TKI). Beliau berdua berprofesi sebagai penjahit peci di Saudi Arabia. Aku dan kakaku dilahirkan disana. Sekitar tiga tahun umurku, mereka membawa kami pulang ke Indonesia dengan membawa bekal secukupnya.

Sekembali dari Saudi, saat itu umurku sekitar tiga tahun, bapak dan ibuku menggarap sawah kami yang ada di Lombok Tengah. Memang kedua orang tuaku berasal dari Lombok Tengah. Di sawah kami itu, ibu dan bapakku menanam padi untuk dijual.  Karena menjadi petani padi tidak memberikan untung yang memadai, akhirnya kedu orang tuaku pindah ke Lombok Utara. Kepindahan kami ke Lombok Utara, dikarenakan banyak teman bapakku yang memintanya untuk pindah kesana.

Setibanya di Lombok Utara, kedua orang tuaku  tidak hanya bekerja sebagai buruh tani mengarap sawah orang. Namun juga bercocok tanam seperti jagung dan singkong, selain itu beliau juga berternak. Saat usiaku menginjak tujuh belas tahun, kedua orang tuaku tidak lagi menggarap sawah, namun berpindah propesi menjadi peternak.

DSC_000563 DSC_000571

Setelah lima tahun tinggal di Lombok Utara, akhirnya kedua orang tuaku pun membeli sebidang tanah untuk mendirikan rumah. Sebelumnya, kami tinggal di rumah sanak keluarga kami. Istilah Lomobk Utaranya, menyodoq. Sekitar tahun 2005, rumah yang dibangun di atas tanah yang sudah dibeli orang tuaku selesai dikerjakan. Mulai saat itu, kami tidak lagi menyodoq di rumah orang.

Sejak bulan Agustus 2015, karena kebosanan yang  terus-terusan  menggangu fikirian ibuku di rumah, akhirnya ibukku mendirikan usaha kecil-kecilan yakni usaha keripik singkong. Usaha ini termotivasi dari tetangga kami  yang terus membuat keripik dan mendapat sedikit keuntungan. “Ketimbang te nganggu-nganggur mene, te pinak kerepeq bae maeh marak dengan-dengan ne”. (Ddari pada kita nganggur seperti ini, lebih baik kita buat keripik saja kayak orang-orang ini), demikian ucap ibuku.

Karena usaha ini membutuhkan tenaga banyak orang, mulai dari mengambil singkong, mengupas, mencuci, mengiris atau memotong, menggoreng dan membungkus, usaha keluargaku ini terasa berat bagi orang tuaku. Terutama ketika kami (anak-anaknya) bersekolah atau pergi menuntut ilmu. Saya sendiri masih kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram, jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, begitu juga dengan kakakku. Jadi, ketika kami semua berada di Mataram, otomatis tenaga yang membantu orang tuaku menjadi berkurang.

Karena tidak ada yang membantu, biasanya hasil produksi keripik menjadi berkurang. Ibu atau bapakku tidak pernah mencari karyawan ataupun menyuruh orang untuk membantu mereka. Hal ini dikarenakan tidak ada uang untuk menggaji orang. Toh juga, hasil penjualan keripik hanya bisa untuk membeli kebutuhan sehari-hari keluarga kami, seperti makan dan bahan-bahan keripik untuk esoknya.

Saat ini, usaha keripik ini adalah  salah satu jenis usaha yang marak di Dusun Jelantik, Desa Dangiang, Kecamatan Kayangan.