Setelah menaiki mobil travel sekitar satu setengah jam dari Bandara Internasional Lombok di Praya, Lombok Tengah, naik-turun bukit, melewati jalur Pusuk yang menghubungkan Lombok Barat dan Lombok Utara—di mana kita bisa melihat ada banyak monyet berbaris-baris di pinggir jalan pada hari terang—saya pun tiba di rumah Sibawaihi, seorang aktivis kebudayan di Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, sekitar pukul delapan malam, 8 Desember, 2015. Saat itu, Siba, sapaannya, kebetulan menjadi kawan seperjalanan saya dari Jakarta menuju Lombok, kampungnya sendiri, karena dia sempat mampir ke Forum Lenteng, Jakarta, setelah menghadiri sebuah konferensi seni di Bandung.

Rumah H. Amir. Foto diambil siang hari.

Rumah H. Amir. Foto diambil siang hari.

“Assalamualaikum!” teriak Siba keras, ketika kami berdua masuk ke pekarangan rumahnya.

Rumah Siba berpagar tembok, dengan pekarangan seluas ± 4×6 m, terletak di pinggir gang kecil. Secara umum, rumah itu terdiri dari dua bangunan. Yang di kanan sepertinya adalah bangunan utama—ketika tiba dan mengucap salam, saya melihat H. Amir, ayahnya, seorang Tuan Guru, baru saja selesai makan malam bersama anggota keluarga yang lain di ruangan tengah (seluas ± 3×6 m) bangunan itu. Bangunan kedua, yang di sebelah kiri, bertingkat dua—lantai bawah tampak digunakan sebagai ruangan keluarga, sedangkan yang di atas saya tidak tahu gunanya (saat itu). Di antara dua bangunan tersebut, ada semacam lorong yang difungsikan sebagai teras, seluas ± 4×8 m, terlihat dari tempat duduk untuk ngaso dari bambu yang diletakkan di depan pintu. Di mata saya, rumah itu sangat akrab karena telah melihatnya berkali-kali dalam Elesan Deq a Tutuq (Sutradara: Syaiful Anwar & pasirputih, 2014).

Mencari ruang mencari rumah (2)

Suasana rumah H. Amir di siang hari.

Suasana rumah H. Amir di siang hari.

Sesaat kemudian, piring-piring baru sudah tersedia. Saya dan Siba dipersilakan oleh Tuan Guru untuk makan malam. Beliau menemani kami sembari menikmati rokok dan kopi. Tiba-tiba terdengar suara orang-orang berlari menuruni tangga. Ghozali, saudara Sibawaihi—mereka berdua dan beberapa kawan di Pemenang mengelola sebuah komunitas, bernama pasirputih—berseru dari depan pintu, “Selamat datang, Saudaraku!”.

Dengan gembira, saya menyambut salamnya yang begitu bersemangat itu. Ghozali datang dengan diiringi oleh dua orang.

“Ini Imran, Zik!” kata Siba, mengenalkan seseorang kepada saya. “Duuuuum…!?” Siba berteriak memanggil seseorang. “Ini Oka…” katanya lagi, mengenalkan yang seorang lagi.

Di suapan nasi yang kelima, dua orang lagi datang menghampiri kami yang sedang makan secara lesehan di ruangan tengah bangunan di sebelah kanan itu. Yang satu adalah laki-laki berkacamata yang oleh Siba tadi dipanggil “Dum”. Dia pernah menjadi salah satu peserta workshop kurator yang sempat diadakan oleh Dewan Kesenin Jakarta bulan lalu. Yang seorang lagi adalah Hadi, yang sudah saya kenal sebelumnya karena pada tahun 2014 dia menginap di Forum Lenteng untuk menyelesaikan proses editing filem Elesan Deq a Tutuq.

Malam itu, kami semua bersemangat. Sebab, keesokan harinya kami akan mencari rumah baru.

***

Kira-kira dua bulan yang lalu, seorang kawan di Jakarta meminta saya menulis esai untuk proyek buku kumpulan tulisan mengenai Ruang Alternatif (Alternative Space) yang sedang dikerjakan oleh organisasinya. Dalam editorial yang mereka berikan, diajukan dua kata kunci: “ruang” dan “keberlanjutan”. Berdasarkan tinjauan literatur saya, “ruang alternatif” sepertinya tidak bisa lepas dari isu tentang inisiatif komunitas (beberapa jurnal menggunakan istilah collective). Mayoritasnya, adalah komunitas kreatif; seni. Meninjau perkembangan komunitas dari era Persagi (yang berdiri tahun 1938) hingga masa kini (contohnya, di Jakarta sekarang ada ruangrupa), saya mencoba menarik kesimpulan: label atau status “alternatif” sepertinya saat ini sudah tidak signifikan lagi, karena sebuah “ruang” justru akan menemukan perannya yang paling relevan jika ia dapat melebur ke dalam lingkungan tempatnya berada/berdiri.

Jatiwangi Art Factory (JaF), sebagai “ruang”, mungkin adalah contoh paling mudah untuk membahas ide tersebut.((Lihat Manshur Zikri, “Masyarakat Berdaya Untuk Pemberdayaan Pemerintah”, dalam Otty Widasari & Manshur Zikri (Peny.), Gerimis Sepanjang Tahun (Jakarta: Forum Lenteng, 2015), hal. 3-15.)) Kata “alternatif” seolah tak berlaku bagi mereka, karena ruang mereka dikelola secara komunal, bukan oleh sekelompok orang dalam lingkup profesi/minat yang spesifik saja, misalnya hanya sekelompok seniman, tetapi melalui gotong-royong warga umum yang ada di lokasi tempat komunitas itu bergerak, yakni warga Desa Jatisura. Alih-alih alternatif, “ruang JaF” (atau, “galeri JaF”) justru hidup sebagai ruang populer di lingkungan lokalnya.

***

Setelah makan malam, kami duduk-duduk ngaso, merokok dan menikmati kopi di bangku bambu di teras rumah. Saat itu, selain saya, Siba, Ghozali, Dum, Imran, Hadi dan Oka, juga ikut serta Husnaini, saudara Siba yang lain, dan Tuan Guru, menemani kami ngopi.

Suasana ngaso di malam saya tiba.

Suasana ngaso di malam saya tiba.

Kepada kawan-kawan itu, tanpa basa-basi saya menjelaskan maksud kedatangan saya, yaitu untuk melakukan riset awal sebelum menjalankan proyek akumassa Chronicle di Lombok Utara. Proyek tersebut adalah kegiatan lanjutan dari Program akumassa Forum Lenteng (bekerja sama dengan Jatiwangi Art Factory dari Majalengka). Berbeda dengan kegiatan-kegiatan akumassa sebelumnya yang lebih mengedepankan pendekatan literasi media, proyek Chronicle menggunakan pola pikir dan kerangka kerja seni. Rencananya, Chronicle akan bermula di Lombok Utara untuk satu tahun pertama selama 2016. Komunitas yang terlibat, seperti pasirputih, kemudian akan melanjutkan proyek tersebut hingga menjadi suatu platform yang signifikan bagi konteks perkembangan aktivitas kebudayaan di wilayah lokalnya masing-masing.

Sebagai proyek seni, akumassa Chronicle di-ko-kuratori oleh Otty Widasari (Program Direktur akumassa Forum Lenteng) dan Arief Yudi (salah satu pendiri dan pegiat Jatiwangi Art Factory). Saya sendiri, bersama Siba dan Ghozali, nantinya akan bertindak sebagai fasilitator dalam proyek itu.

“Ayo, Ba! Jelasin yang dibilang Hafiz kemarin!” kata saya, menepuk paha Siba.

“Ya…, intinya, pokoknya sekarang kita sudah harus mulai berpikir untuk jangka panjang,” kata Siba akhirnya, setelah malu-malu mencoba menolak permintaan saya. “Kalau Bang Hafiz bilang, sekarang kita sudah harus berpikir untuk menjadi pemain utama untuk wilayah kebudayaan di NTB, bukan lagi cuma sebagai komunitas kecil-kecilan…”

“Kasarnya, kita akan mencoba membuat pasirputih sebagai ‘art space’ atau semacamnya,” sambung saya sementara orang-orang yang mendengarkan menyimak dengan penasaran. “Kalau bisa, sih, di sini nanti akan ada bioskop warga, dikelola oleh kawan-kawan pasirputih.”

“Wah, bener tuh! Ente bisa itu…, ngembangin Pekan Sinema!” seru Ghozali, berbicara ke arah Oka yang duduk santai bersandar ke dinding, tersipu-sipu. Pekan Sinema adalah program milik Komunitas pasirputih, berupa penayangan filem secara reguler setiap dua minggu sekali, yang sudah mereka jalankan sejak beberapa bulan lalu. Ke depannya, program ini akan berganti nama menjadi Bioskop pasirputih.

“Wah, iya! Kalau udah jadi bioskop, harus tiga kali seminggu, ya! Kalau bisa, setiap hari!” saya menimpali, tertawa.

“Waduh…!” seru Oka, tersenyum makin lebar, mendongakkan kepala dan menepuk jidatnya sendiri.

“Jadi, makanya kita sekarang harus mencari markas baru buat kawan-kawan. Udah coba dicari, kan…?” tanya saya, menoleh ke Ghozali. Dia mengangguk. “Sudah, ada beberapa calon…” jawabnya.

“Selain bioskop, mungkin, nanti teman-teman juga bisa bikin banyak program kegiatan di sana,” kata saya lagi. “Mau pameran seni, kah…? Diskusi mingguan, kah…? Workshop…, macam-macam. Kalau bisa, rumahnya yang agak besar, bisa sekaligus jadi kantor dan tempat menginap. Soalnya, dalam proyek ini nanti akan ada seniman-seniman, peneliti, penulis, macam-macam, yang kita undang untuk terlibat. Beberapa dari NTB, lainnya dari luar NTB.”

Mengulangi lagi penjelasan Siba, saya mengatakan bahwa keberadaan markas baru itu akan menjadi babak baru bagi Komunitas pasirputih untuk berperan sebagai organisasi egaliter non-profit yang aktif mengembangkan berbagai kegiatan kebudayaan. “Semacam menjadi ‘ruangrupa’-nya Lombok, deh! Atau kayak JaF, tuh…!” kata saya ke mereka. Ini adalah cita-cita untuk membangun poros kesenian di wilayah timur; inisiatif untuk terus mendesentralisasikan aktivitas-aktivitas kreatif ke berbagai daerah sehingga orang-orang tak melulu berkiblat ke Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung (atau sekarang ini, Jatiwangi).

“Wah, ini seru, ini! Perlu bicara serius, kita!” kata Ghozali. “Ayo, Zik, ente masih kuat dan belum akan tidur, kan? Kita pindah ke atas aja…!” ajaknya.

Kami semua, kecuali Tuan Guru dan Bang Husnaini, menaiki tangga ke lantai atas pada bangunan yang sebelumnya saya katakan terletak di sebelah kiri. Barulah saya tahu bahwa ruangan itu adalah markas pasirputih, yang terbagi lagi menjadi empat ruangan kecil.

Suasana ruangan rapat, lantai 2, yang menjadi markas sementara Komunitas pasirputih.

Suasana ruangan rapat, lantai 2, yang menjadi markas sementara Komunitas pasirputih.

“Wah, asyik, nih, Ba…?!” seru saya, berjalan-jalan mengitari ruangan studio (seluas ± 3×3 m), lalu memperhatikan kertas-kertas karton berisi coretan-coretan hasil rapat yang ditempel di dinding ruangan rapat  (juga seluas ± 3×3 m). Di ruangan rapat itu, sebuah jendela berhadapan langsung dengan teras selebar ± 80 cm di luar, dan melaluinya kita bisa memandang atap-atap rumah tetangga.

“Yoi, Zik…!” seru Siba. “Lu ntar tidur di sini, ya…!” katanya lagi, menunjukkan sebuah kamar tempat tidur seluas ± 3×4 m.

“Sedaaap…!” tanggap saya. “Tapi…, itu kamar siapa?” tanya saya, menunjuk sebuah ruangan di sebelah ruangan rapat.

Pintu kamar sepupu Siba.

Pintu kamar sepupu Siba.

“Itu kamar Ilham, sepupu gue…” jawabnya. Pintu kamar itu tertutup rapat—dalam beberapa hari kemudian, saya nanti akan menyadari bahwa kamar itu lebih sering tertutup rapat sementara Ilham sendiri jarang ikut berkumpul, seakan menegaskan bahwa kamar itu adalah wilayah privat si penghuninya.

Tanpa menunggu lebih lama, kami sudah berkumpul lagi di ruangan rapat. Hadi dan Dum tiba-tiba datang membawa sedikit makanan kecil, dua bungkus rokok dan beberapa gelas kopi lagi. Singkatnya, hingga larut malam, kami terus berdiskusi tentang kriteria rumah yang layak untuk dijadikan markas: memiliki (minimal) dua kamar untuk menginap, satu ruangan studio/kantor, satu ruangan utama untuk kegiatan, kamar mandi bersih, air dan listrik lancar, serta suasana sekitar yang tidak terlalu bising, tetapi tetap terbuka dengan masyarakat sekitar. Maka, tulisan ini catatan tentang pencarian rumah baru itu.

***

Mengutip satu sumber, “ruang arus utama” adalah suatu ruang yang mana pemahaman kita terhadapnya sebenarnya telah “dialamiahkan” (oleh “si dominan”).((Lihat A. K. Rath, “Perihal Seni Alternatif dan Ruang Seni Alternatif/Altered-natives & Altered-spaces”, dalam Karbon(5), Februari 2002, hal. 4-15.)) Dengan kata lain, karena ada bantuan pihak yang berkuasa—apa pun bentuknya: negara, partai politik, pemilik modal, konglomerasi media, atau bahkan, massa—sehinngga di mata kita “ruang arus utama” itu tampak sebagai yang lumrah, umum, atau sebagai “pilihan pertama” (tak jarang, menjadi satu-satunya). Padahal, belum tentu dia organik. Belum tentu “ruang” tersebut dekat dengan masyarakat sebagaimana kita dekat dengan kerabat kita sendiri.

Saya lantas berpikir, kalau kita memang ingin menandingi “ruang arus utama”, berarti kita harus mengelola “ruang yang organik”. Pertanyaannya: di manakah ruang semacam itu?

***

Saya sudah berfirasat sebelumnya, bahwa akan ada berita yang mengecewakan, saat Ghozali berjalan mendekati tangga (mungkin untuk mencari sinyal telepon yang lebih bagus), menjawab sebuah panggilan di ponselnya. Firasat tak enak saya terbukti saat Ghozali kembali dengan tampang cemberut: kami gagal, untuk ke sekian kali, mendapatkan rumah.

Sebuah rumah di Dusun Cupek, Sigar Penjalin.

Sebuah rumah di Dusun Cupek, Sigar Penjalin.

Hari itu adalah hari kedua saya di Pemenang. Malam harinya, kami sudah sibuk mengutak-atik gambar, merancang denah dan sekat-sekat ruang untuk markas yang baru. Di Dusun Cupek, Desa Sigar Penjalin, kami menemukan sebuah bangunan bagus, tampak berdiri gagah di tengah halaman dan berjarak 10 m dari pinggir sebuah jalan raya yang menghubungkan Pemenang dan Tanjung. Awalnya, itu bukan rumah incaran, karena Ghozali sudah menemukan sebuah rumah di pinggir jalan yang sama, tapi di titik lokasi yang jaraknya lebih jauh. Namun, rumah incaran itu terlalu kecil dan bangunannya terlalu merapat ke pinggir jalan. “Kalau muter filem, suara mobil akan mengganggu acara,” kata saya.

Sebuah rumah di Dusun Mekar Sari.

Sebuah rumah di Dusun Mekar Sari.

Ada juga rumah incaran yang lain, letaknya di Dusun Mekar Sari, Desa Pemenang Barat. Dari jalan raya, kita harus memasuki sebuah gang kecil untuk menemukan rumah itu. Pekarangannya begitu luas, suasananya tenang, dan memiliki banyak kamar. Si pemilik bahkan tidak keberatan jika kami menjebol satu dinding untuk membentuk sebuah ruangan tengah yang memadai sebagai ruang kegiatan. Tapi sayang, tetangga tampaknya tak setuju jika ada keramaian. “Mana mungkin…? Kegiatan kita pasti akan sangat padat sampai malam hari, setiap hari. Pasti akan menimbulkan sedikit kegaduhan. Apalagi kalau dijadiin bioskop…?”

Di tengah kebingungan dan kelelahan karena rumah-rumah incaran gagal didapati, kami tidak sengaja melihat bangunan gagah itu saat sedang menaiki motor dari arah Tanjung menuju kembali ke rumah Siba yang berada di Dusun Karang Subagan. Melihat bangunannya yang berdinding kaca, terasa kesan mewah dan tentunya cocok jika difungsikan sebagai, misalnya, galeri. Bangunan itu sendiri terdiri dari dua ruangan yang cukup besar, masing-masing seluas ± 6×7 m dan ± 4×7 m, dengan tinggi ± 3 m. Di bagian paling kanan ada lorong selebar 3 m untuk menuju pekarangan yang sangat luas di belakang bangunan. Sebuah rumah—milik si induk semang—berdiri di sebelah kiri bangunan itu. Si pemilik sedang tidak di tempat waktu itu, dan dari si penjaga rumah, kami mendapat nomor telepon sehingga negosiasi pun berlangsung via ponsel. Negosiasi dengan si ibu pemilik sebenarnya berjalan mulus. Kami sepakat akan membantu membuatkan sebuah kakus seukuran 2×2 m. Permintaan kami untuk menutup lorong dan mengubahnya menjadi ruangan baru pun dibolehkan. Yang lebih menggembirakan, si ibu setuju dengan harga Rp 6 juta saja (termasuk di dalamnya biaya pembuatan kakus dan perbaikan di sana-sini) untuk kontrak satu tahun. Tahun berikutnya, kami cukup membayar dengan harga segitu.

Mencari ruang mencari rumah (9)

Mencari ruang mencari rumah (10)

Mencari ruang mencari rumah (11)

Pekarangan luas di belakang gedung rumah di Dusun Cupek.

Pekarangan luas di belakang gedung rumah di Dusun Cupek.

Bentuk ruangan-ruangan bangunan di Dusun Cupek, Sigar Penjalin.

Bentuk ruangan-ruangan bangunan di Dusun Cupek, Sigar Penjalin.

Maka dari itulah, di malam kedua saya di Pemenang, saya dan Siba beserta Bang Husnaini yang mengerti pertukangan, mulai sibuk menghitung-hitung biaya pembuatan kakus dan sekat-sekat triplek untuk membagi satu ruangan menjadi beberapa kamar. Tapi kegembiraan itu dirusak karena si anak pemilik rumah tiba-tiba menghubungi Ghozali, menyampaikan keberatannya.

Lorong itu, kan, buat jalan ke belakang rumah,” kata si anak, sebagaimana ditirukan Ghozali saat menceritakan perbincangannya di telepon kepada kami. “Tapi tidak apa-apalah, saya anggap itu korting-an. Tapi, untuk bikin WC-nya, kami minta lagi 6 juta… Begitu, Zik, katanya.”

“Lah, itu kan artinya kita harus bayar 12 juta setahun…?!”

“Ya, itu dia…”

Itu jelas memberatkan. Sebenarnya, bisa saja kalau diusahakan, tapi tampaknya Ghozali dan Siba sudah terlanjur kesal. Terlebih lagi, si anak pemilik rumah itu adalah teman mereka sendiri, tapi tak mau bermurah hati kalau sudah berbicara bisnis. Padahal, rumah itu sangat baik lokasinya. Di samping kanan rumah itu, ada toko fotokopi, di belakangnya ada rumah tetangga. Katanya, setiap sore, ibu-ibu di sekitaran sana menggunakan halaman bangunan itu sebagai tempat senam sore warga. Situasi semacam itu tentunya menjadi peluang untuk bisa mempopulerkan markas baru pasirputih sekaligus promosi kegiatan-kegiatannya.

Kabar mengecewakan itu membuat kami harus kembali mencari rumah keesokan harinya.

***

Saya yakin, bahwa “yang organik” tidak tersembunyi jauh di dalam semak belukar kehidupan yang begitu kompleks, tetapi mereka sebenarnya adalah segala sesuatu yang akrab dengan kita, yang kita lihat, dengar dan alami setiap hari, setiap waktu. Saking organiknya, kita sering tidak sadar bahwa sesungguhnya ia sudah ada di situ sejak dulu: umumnya bukan hal baru sama sekali, tidak pula menghadirkan dirinya sebagai pilihan akhir, cadangan atau opsional (alternatif: “tersedia untuk dipilih—tetapi tidak wajib—kalau sudah mentok”…). Asalkan kesadaran kita bekerja terhadapnya, justru “sesuatu yang organik” itu adalah “sesuatu yang utama sebenar-benarnya”, bukan “alternatif”.

Persoalannya sekarang, “ruang”, terlepas dari statusnya sebagai “yang alternatif” atau “yang mainstream”, pasti membutuhkan “keberlanjutan”. Maksudnya, “pengelolaan ruang” yang diharapkan di sini tidak dilakukan secara sementara, tetapi harus dapat terus bertahan dan bahkan semakin berkembang mengikuti semangat zaman. Terserahlah, apakah dia akan menjadi sangat populer, menjadi budaya massa, atau tampil sebagai kultur yang beda/unik/eksklusif, karena poin utamanya adalah bagaimana kegiatan-kegiatan milik si ruang tidak hanya menjadi selebrasi sesaat, kemudian lenyap-hilang tak diingat orang-orang lagi…? Bagaimana gagasan-gagsan yang dibawa oleh “ruang milik komunitas” itu dapat terus hidup, menginspirasi dan menemukan inovasi dari waktu ke waktu…?

***

Di hari pertama, selain dua rumah incaran yang saya ceritakan tadi, sebetulnya kami juga sudah menemukan bangunan lain yang juga terletak di Dusun Karang Desa. Ada tiga bangunan menarik di pinggir jalan yang menuju ke arah Senggigi.

Gedung bekas koperasi, terletak di Dusun Karang Desa.

Gedung bekas koperasi, terletak di Dusun Karang Desa.

Bangunan pertama sangat besar, dengan pekarangan yang luas. Ghozali mengatakan bahwa bangunan itu bekas koperasi desa. Kalau dilihat-lihat, bandingan untuk bentuk bangunannya adalah bangunan Gudang Sarinah yang menjadi venue Jakarta Biennale 2015 di Pancoran Timur II. Sangat layak untuk dimanfaatkan menjadi ‘art space’. Tapi, memaksakan bangunan itu sebagai markas Komunitas pasirputih yang baru, justru akan mendatangkan PR-PR baru pula: ketersediaan listrik dan air yang harus memadai untuk bangunan sebesar itu; kami juga harus menunggu persetujuan si pemilik yang keberadaannya entah di mana, serta menunggu hingga tiga rumah yang sedang dibangun di bagian belakang gedung itu selesai. Seorang warga yang lewat mengatakan bahwa si pemilik adalah orang kaya dan punya banyak rumah. Gedung bekas koperasi itu adalah salah satu aset kekayaannya. Tiga rumah yang sedang ia bangun di dekat gedung besar itu rencananya akan dia sewakan. Rasanya tak mungkin jika gedung itu akan direlakan si pemilik untuk disewa dengan kisaran harga 10 jutaan saja.

Sementara itu, di seberang jalan, berhadap-hadapan dengan gedung besar itu, ada sebuah rumah yang ukurannya agak lebih kecil, ditempeli papan bertuliskan DIJUAL.

“Mungkin pemiliknya mau kalau kita sewa,” kata Ghozali. “Coba telepon, Siba!”

Siba kemudian mencoba menghubungi nomor yang tertera di papan pengumuman itu. Saya dan Dum mencoba melirik-lirik jendela, menduga-duga keadaan ruangan-ruangan di dalamnya. Setelah menunggu cukup lama, niat kami untuk menyewa bangunan itu pun juga batal, karena setelah menelpon si pemilik, Siba mengatakan bahwa rumah itu sudah lebih dulu dibeli oleh orang Jakarta seminggu sebelumnya.

Rumah kosong yang ditinggalkan pemiliknya hampir dua tahun, terletak di Dusun Karang Desa.

Rumah kosong yang ditinggalkan pemiliknya hampir dua tahun, terletak di Dusun Karang Desa.

Selanjutnya, jika kita berjalan lagi sekitar seratus meter dari bangunan besar bekas koperasi itu, ke arah Senggigi, kita akan menemukan sebuah rumah kosong dengan pekarangan yang cukup luas. Tapi tampak sudah tak dihuni demikian lama. Semak belukar tumbuh subur di pekarangannya. Ghozali sudah mengincar jauh-jauh hari rumah itu.

Ketika kami masuk ke pekarangan rumah dan memarkirkan motor, karena pagar temboknya tidak ditutup, tak ada orang sama sekali yang bisa ditemui. Rumahnya pun tidak dikunci. Kami berempat—saya, Ghozali, Siba dan Dum—nekat masuk ke dalam rumah dan memperhatikan keadaan ruangan-ruangan di dalamnya. Benar-benar berantakan, bahkan ada satu ruang yang atapnya ambruk. Namun, lokasi rumah, pekarangan luas, dan ketersediaan banyak kamar serta sebuah ruang yang cukup luas (± 4×6 m), membuat Ghozali jatuh hati pada bangunan itu (saya juga, sebetulnya).

Gue pengen banget bangunan ini jadi markas kita…” katanya, dengan wajah memelas.

Setelah bertanya sana-sini, kami pun akhirnya memutuskan bertamu ke rumah kepala dusun, menanyakan status rumah kosong itu dan keberadaan si pemiliknya.

“Orangnya tinggal di Trawangan,” jawab Pak Kadus. “Memang, rumah itu sudah hampir dua tahun tidak ditempati. Keluarganya ada yang tinggal di dekat sini. Kalau mau, nanti saya bantu sampaikan. Soal harga, saya tidak tahu, itu tergantung kesepakatan kawan-kawan dengan si pemilik.”

Ghozali kemudian menjelaskan kepada Pak Kadus, maksud kami mencari rumah adalah untuk dijadikan sebagai markas Komunitas pasirputih. Bahwa, nanti akan ada banyak kegiatan, semacam penayangan filem, diskusi, pameran seni, bahkan mengundang beberapa seniman dan peneliti dari luar kota untuk tinggal di sana, melakukan semacam kegiatan residensi seni di Lombok. Kami juga mengklarifikasi bahwa orang yang diundang itu bisa saja laki-laki dan peremuan, sehingga nanti mereka semua akan di tinggal di rumah itu (tapi, tentunya, akan tidur di ruangan yang berbeda). Pak Kadus tidak mempermasalahkan itu semua. “Asalkan untuk kegiatan positif, saya mendukung!” katanya. Itu adalah respon yang baik.

Tapi, mungkin karena memang bukan jodoh, hingga dua hari kemudian setelah obrolan di rumah Pak Kadus, kami tak kunjung mendapat kabar darinya soal konfirmasi dari si pemilik rumah.

***

Musik alternative saja kini telah menjadi musik mainstream juga, toh?! Karena media massa dan label-label arus utama memandangnya sebagai bahan yang bisa didadar terus-menerus untuk menghasilkan konten hiburan yang laku, pikir saya suatu hari. Demikian pula soal “budaya tanding”. The Rebel Sell, buku hasil kolaborasi seorang profesor filsafat dan seorang jurnalis dari Kanada itu, telah memaparkan argumen tentang bagaimana penguasa modal bisa merontokkan “mimpi/utopia alternatif” menjadi bahan yang gunanya tak lebih dari sekadar pemicu akumulasi keuntungan mereka.((Lihat Joseph Heath & Andrew Potter, The Rebel Sell: Why the Culture Can’t be Jammed (Toronto: Harper Perennial, 2004). Sudah diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Radikal Itu Menjual: Budaya Perlawanan atau Budaya Pemasaran?, terj. Ronny Agustinus & Paramita A. P. (Jakarta: Antipasti, 2009).)) Belakangan, stasiun-stasiun televisi swasta nasional juga ikut-ikutan ber-jurnalisme warga pula. Singkatnya, kita semua seakan sedang dikadali oleh “si dominan”, lagi dan lagi! Bukankah ini menggelikan?

Tapi fenomena ini menunjukkan, bahwa “alternatif” pada faktanya justru telah menginspirasi “arus-arus utama” supaya mereka (juga) bisa tetap bertahan. Dengan kata lain, komunitas-komunitas itu, yang—karena faktor “pemahaman yang dialamiahkan” oleh si pendominasi—mulanya dianggap oleh masyarakat umum sebagai “pemain-pemain pinggir”, ternyata, adalah “pelaku-pelaku utama” juga: poros-poros inspirasi.

Dalam konteks ini, tentunya hingga sekarang kita tetap menolak ide tentang kemapanan, karena “yang berhasil mapan” selalu rentan menjadi “pendominasi [baru]”—kalau sudah mendominasi, pasti lagi-lagi akan menindas. Bagaimana kita kemudian dapat melihat komunitas sebagai bagian dari konstelasi “pelaku utama” yang jamak (plural), yang sama kuat dan saling menopang, yang tersebar secara merata di berbagai segi, mendesentralisasikan kekuasaan yang dominan? Kalau kata Rath, komunitas (beserta ruang yang mereka kelola) itu, pada dasarnya, menjadi bagian dari “sektor-sektor sosial yang lebih luas dan lebih beraneka yang sedang memperjuangkan hak untuk menafsir”((A. K. Rath, op. cit., hal. 12))… atau berekspresi.

Daripada memusingkan bagaimana caranya supaya “menjadi beda” itu bisa lepas dari unsur kapital-kapitalan dan neolib-neoliban, menurut saya, ada baiknya sedari awal kita meniatkan diri menjadi komunitas yang mengelola ruang (yang organik) dengan agenda: menjadi utama—secara kualitas, tentu saja—bukan anak bawang. Dalam artian: memiliki daya yang dapat menggiring (atau menjadi contoh bagi) “arus-arus utama konvensional” agar mereka bergerak ke arah yang lebih baik.

Untuk mendukung agenda itu, saya pikir, tentu sebuah komunitas membutuhkan ruang yang tidak sekadar alternatif, atau pun memiliki ruang yang hanya dijadikan sebagai “ruang alternatif”, melainkan sebagai “ruang utama” bagi publik (masyarakat umum). Kerangka berpikir inilah yang kemudian menjadi modal saya untuk membantu kawan-kawan Komunitas pasirputih di Pemenang, Lombok Utara, NTB, saat mereka mencari rumah/markas baru.

Sekali lagi, di mana ruang semacam itu bisa kita dapatkan? Berdasarkan kesepakatan dan keyakinan kami saat itu, jawabannya adalah di area-area di mana kekerabatan sosial telah berkembang secara organik. Barangkali, “rumah yang memiliki tetangga”…?

***

Di malam kedua itu, beberapa menit pasca panggilan telepon yang mengecewakan, saya memperhatikan Ghozali sangat murung dan gelisah. Tak henti-hentinya dia melirik ponselnya, mungkin mencoba menghubungi beberapa kenalan untuk meminta bantuan mencarikan rumah.

Foto Ghozali yang saya unggah ke Facebook.

Foto Ghozali yang saya unggah ke Facebook.

Dengan niat iseng, saya mengambil fotonya yang sedang melihat ponsel, lalu mengunggahnya ke media sosial. Hitung-hitung menjadi semacam kabar harian ke kawan-kawan di Jakarta jika kebetulan mereka online dan melihat Facebook, bahwa kami di Pemenang masih belum menemukan rumah untuk markas baru.

Tiba-tiba Siba dan Ghozali mengajak saya untuk duduk nongkrong di saung milik tetangga mereka. Di sana, sudah ada seseorang yang saya lupa namanya. Orang yang ramah. Di temani dua gelas kopi, Ghozali, Siba dan saya berkeluh-kesah kepadanya soal kesulitan mencari rumah. Tak lupa dibumbui dengan cerita menjengkelkan tentang si orang yang melipatgandakan harga rumahnya itu—saya juga ikut bantu membumbui.

Setelah mendengar kriteria rumah kami, akhirnya tamu kami itu menawarkan untuk melihat sebuah rumah di Dusun Sira Daya, Desa Sigar Penjalin. Areanya terletak dekat dengan garis pantai. Dia mengatakan rumah itu memiliki banyak kamar dan satu ruangan besar. Si tamu menawarkan untuk melihat rumah itu esok hari.

Di waktu yang bersamaan dengan tawaran si tamu, Ghozali mendapat kabar dari seorang kawannya melalui Facebook, yang mengomentari foto dirinya yang saya unggah (menampilkan gesture-nya yang terlihat mumet mencari rumah). Kawan Facebok-nya itu mengatakan ada rumah kosong di Dusun Lendang Berora, Desa Sigar Penjalin, dan bisa dilihat malam itu juga. Tanpa menunggu lebih lama, kami bertiga segera melihat rumah itu setelah berpamitan dan meninggalkan si tamu dengan setengah gelas kopinya yang tersisa.

Namun, rumah di Lendang Berora, ternyata, jauh dari kriteria. Rumahnya sangat kecil, bahkan listriknya sulit menyala waktu itu. Dalam perjalanan pulang, saya yang berboncengan motor dengan Siba sempat melihat sebuah rumah besar yang menurut Siba memenuhi kriteria sebagai markas, yakni rumah milik Herman Zohdi di Dusun Bentek, Desa Persiapan Manggala. Sayangnya, sinyal internet untuk di daerah itu masih sangat sulit. Sementara, fasilitas internet sangat penting bagi kelancaran kerja Komunitas pasirputih, terutama untuk persoalan distribusi konten/produk, seperti tulisan atau video.

Salah satu penampakan ruangan dalam rumah yang terlekat di Sira Daya.

Salah satu penampakan ruangan dalam rumah yang terlekat di Sira Daya.

Rumah di Sira Daya yang kami lihat keesokan harinya, jauh lebih baik. Selain ada empat kamar, ada sebuah ruangan cukup luas seukuran 4×5 m. Pekarangannya juga luas, dan ada banyak rumah-rumah tetangga yang, menurut si pemilik rumah, tidak akan merasa keberatan jika pasirputih mengadakan kegiatan yang “berisik”. Itu merupakan peluang yang sangat baik, dan saya pribadi cukup jatuh hati dengan rumah itu—meskipun, Ghozali sendiri merasa ragu dengan penerimaan para tetangga setelah dia memperhatikan lingkungan sekitar rumah itu. “Aku gak yakin dengan suasananya, Zik!” ucapnya. Pada akhirnya, rumah itu pun batal kami ambil (walaupun harganya, kalau saya tidak salah ingat, sangat terjangkau) karena alasan masih ada satu ruangan yang masih akan ditempati oleh keluarga si pemilik. Hasil konsultasi kami dengan Hafiz, Direktur Forum Lenteng, keberadaan keluarga si pemilik itu pastinya nanti akan mengganggu kinerja komunitas. Bukan berarti pasirputih tertutup dengan warga sekitar, tapi adanya pertimbangan bahwa kinerja internal komunitas tak elok jika berada dalam satu atap dengan urusan privasi keluarga orang lain. Dan belum tentu juga si keluarga pemilik itu akan merasa nyaman, atau sebaliknya, seniman-seniman tamu yang akan datang berkunjung juga akan merasa kurang leluasa.

Ruko 50 juta.

Ruko 50 juta.

Dalam perjalanan pulang dari Dusun Sira Daya, kami sebenarnya sempat melihat sebuah ruko yang sangat layak, dengan dua ruangan sangat besar dan ketersediaan listrik dan air cukup. Tapi, terlalu mahal: 50 juta setahun. Sedangkan sebuah ruko yang lain (yang kelihatan lebih mewah dan cocok untuk “galeri seni”), di Dusun Tembobor, desa yang sama, juga batal ditindaklanjuti pada hari berikutnya, karena, selain kelihatannya si pemilik ruko kurang berkenan menyewakan, kami sudah terlanjur jatuh hati dengan sebuah rumah di Dusun Karang Baro, Desa Pemenang Timur, milik Pak Mas’un.

Rumah bekas perpustakaan dusun.

Rumah bekas perpustakaan dusun.

Mencari ruang mencari rumah (20)

Mencari ruang mencari rumah (21)

Di hari ketiga itu, akhirnya kami menemukan dua rumah di Desa Pemenang Timur untuk menjadi kandidat kuat sebagai markas baru Komunitas pasirputih. Selain rumah Pak Mas’un, satu rumah lagi terletak di Dusun Karang Montong. Rumah Karang Montong itu sebenarnya menarik. Pada bangunannya, terdapat sebuah ruangan yang dahulunya digunakan si pemilik (almarhum) sebagai perpustakaan untuk umum. Buku-buku dan meja-meja bacanya masih lengkap. Sang istri bahkan sempat meminta pasirputih, jika jadi mengambil rumah itu, untuk melanjutkan pengelolaan perpustakaan. Tentu kami sangat senang dengan tawaran itu. Akan tetapi, di sebelah rumah itu, ada sebuah ruangan yang sudah disewa sebagai tempat usaha penjualan semen. Sang istri pemilik rumah mengatakan orang yang menyewa itu adalah Pak Haji—yang kebetulan hari itu tak bisa kami hubungi—yang sepertinya akan keberatan jika kami mengundang orang-orang bukan muhrim menginap di satu tempat. Oleh karenanya, pilihan kami pun jatuh pada rumah Pak Mas’un.

Rumah Pak Mas’un.

Rumah Pak Mas’un.

Rumah Pak Mas’un terletak di dalam sebuah gang. Pekarangannya tidak terlalu luas, tapi cukup jika nantinya pasirputih berkeinginan mengadakan pemutaran filem di pekarangan rumah itu. Ada pagar tembok juga di depannya. “Nanti kita bikin mural yang isinya timeline sejarah sinema dunia, bagus nih, kayaknya…?!” canda saya dan Ghozali. Ada lima kamar (masing-masing seluas ± 3×3 m), satu dapur (± 2×3 m), dan satu ruangan besar berukuran ± 3,5×6 m. Listrik dan air cukup. Tapi kami masih perlu melakukan beberapa perbaikan di sana-sini, seperti kusen-kusen pintu yang sudah dimakan rayap, dan kamar mandi yang berantakan.

Pak Mas’un sendiri tidak peduli bagaimana bentuk kegiatan pasirputih, tak risau pula dengan niat kami untuk menginapkan beberapa seniman laki-perempuan di sana. “Yang penting harganya sesuai kesepakatan,” katanya tertawa. Beliau sendiri dan istrinya tidak tinggal di dusun itu.

Masih dalam satu area pekarangan yang sama, ada sebuah rumah yang sama besar berdiri di sebelah rumah Pak Mas’un itu. Safwan, orang yang tinggal di rumah yang akan menjadi calon tetangga kami itu, adalah teman Siba di klub karate. Dia juga pernah ikut beberapa kegiatan Komunitas pasirputih, dan sedikit-banyak tahu akan bagaimana kegiatan komunitas ini nantinya.

“Bagi gue, yang penting, tuh, tetangganya welcome, Zik!” kata Ghozali. “Kalau udah begitu, ente mau ngapa-ngapain juga, kan, bisa enak. Nyaman, gitu, loh…! Gimana menurut, ente?”

“Iya, sih…!” kata saya mengangguk. Saat itu, kami duduk nongkrong di warung yang terletak di teras depan rumah Safwan—ibunya mengelola warung itu. “Lumayan, ada warung juga di sini… Terus, feng shui-nya juga enak…”

Lu bisa baca feng shui, Zik…?!” tanya Ghozali, takjub.

“Wah, jangan salah…!” kata saya, tertawa.

Suasana di dalam rumah Pak Mas’un.

Suasana di dalam rumah Pak Mas’un.

Kondisi ruangan dapur rumah Pak Mas’un.

Kondisi ruangan dapur rumah Pak Mas’un.

Lokasi bangunan rumah Pak Mas’un itu ada di tengah-tengah pemukiman warga. Di depannya, ada rumah tetangga, di sampingnya juga, di samping rumah tetangga itu juga ada rumah tetangga yang lain. Gang untuk memasuki rumah itu tidak terlalu lebar. Intinya, hiruk-pikuk warga cukup ramai di daerah itu, tetapi tidak berisik karena jauh dari jalan raya sehingga memungkinkan bagi Komunitas pasirputih jika harus mengadakan pemutaran filem-filem tanpa terganggu kebisingan jalan. Dan berdasarkan keterangan Safwan, tidak akan ada tetangga yang merasa keberatan. Dia sendiri, dan ayahnya yang saat itu turut berbincang dengan kami setelah Pak Mas’un pulang ke tempat tinggalnya, berani menjamin. “Paling, ya, jangan lupa lapor ke Pak RT, ngasih tahu bahwa di sini ada kegiatan-kegiatan seni,” sarannya.

“Tapi, ya, itu…, harganya yang masih agak memberatkan…” kata Ghozali, menggaruk-garuk kepalanya, kelelahan.

“Dia pasang berapa…?” tanya ayah Safwan. Ghozali menyebutkan kisaran harga yang ditawarkan, lalu, “Ah, ngarang itu! Terlalu mahal…!” seru ayah Safwan. Tapi bagaimana pun, rumah itu tetap kami pilih.

Mencari ruang mencari rumah (25)

***

Dari lima hari berada di Pemenang, Lombok Utara itu, ada hal-hal yang memang perlu saya sebutkan terkait usaha mencari rumah itu. Misalnya, ukuran-ukuran ruangan di dalam rumah, atau kesulitan dan alasan gagalnya sebuah rumah untuk disewa, serta penyebutan nama dusun-dusun yang kami datangi, di catatan ini. Penyebutan itu semua ke dalam bentuk rangkaian cerita seperti ini, adalah  suatu usaha untuk memberikan gambaran atau peta tentang kemungkinan-kemungkinan “ruang [fisik]” di Lombok Utara. Seperti yang saya utarakan, kami berusaha mencari “ruang utama” di mana lingkungan sekitarnya juga dapat menerima gagasan dan kehadiran Komunitas yang berusaha menjadi utama itu.

Dulu, mencari tanah dan mencari rumah di NTB sangatlah mudah. Di filem Elesan Deq a Tutuq, Tuan Guru menceritakan bahwa hampir semua orang lokal di Pemenang punya tanah yang luas karena harganya sangat murah—beberapa bahkan dimiliki tanpa ada transaksi jual beli. Sampai-sampai, tanah seakan tidak menjadi barang yang berarti sehingga orang-orang main jual-jual saja. Belakangan, karena potensi pariwisata Lombok yang terus meningkat—terutama Pemenang yang memiliki Pelabuhan Bangsal—tiba-tiba saja terjadi semacam gagap aset di kalangan pemilik tanah. Mereka kemudian memasang harga untuk tanahnya dengan angka yang selangit, melompat benar-benar jauh tanpa logika ukuran pertanahan yang jelas. Itu juga berpengaruh pada bagaimana orang kemudian mematok harga sewa/jual bangunan.

Dan fenomena itu juga menerpa kami pada kenyataannya. Sebuah perbincangan saya dengan seorang pengelola penginapan di Gili Trawangan juga menyimpulkan demikian. Semakin ke sini, orang-orang mulai mengkomersilkan tanah dan bangunan. Untuk keperluan wisata, katanya. Sebagian besar dimiliki oleh orang-orang di luar Lombok. Dampaknya, sedikit demi sedikit ruang bagi warga lokal pun berkurang. Ruang untuk apa pun: tempat tinggal, dagang, atau untuk kegiatan-kegiatan swadaya seperti yang dilakukan oleh Komunitas pasirputih.

Selain itu, pertarungan untuk mendapatkan “ruang”, toh, tidak hanya terjadi antara “yang alternatif” dan “yang mainstream” dalam konteks aktivitas kebudayaan dan bisnis saja, tetapi juga hinggap di keseharian warga itu. Contohnya pengalaman yang kami dapatkan selama proses pencarian rumah: penerimaan dan penolakan warga atas kedatangan penghuni baru di lingkungan mereka tidak berakar pada soal mengenai kekuasaan “si dominan” yang membelenggu ekspresi “kelompok-kelompok alternatif”, tapi pada pertimbangan sejauh apa penghuni baru itu dapat memberikan ketenangan, ketoleransian, dan kebermanfaatan bagi penghuni-penghuni lainnya yang lebih dulu ada di sana.

Mencari ruang mencari rumah (26)

Inilah yang menguatkan alasan saya, bahwa “ruang alternatif”, dalam keadaan tertentu, tidak relevan lagi dalam dinamika gerakan komunitas kontemporer saat ini di kehidupan masyarakat bangsa kita. Meromantisir keadaan “berdarah-darah” merebut ruang, apakah itu di jalanan, di area-area kelas elite, di kawasan perdagangan, fasilitas publik, dan lain sebagainya, adalah kenaifan semata. Tanah dan ruang-ruang kita bukanlah tanah dan ruang bermuka “horor”, seperti yang dialami orang-orang macam Banksy di seberang lautan sana—karena kehororan yang menjemukan itu, orang semacam Banksy kemudian dengan sadar memberontak. Sebab, tanah di lingkungan masyarakat kita masih ada tradisi “pemakluman” asalkan “saling mengenal”, meskipun terkadang masih ada juga sentimen-sentimen berlatarbelakang adat dan agama yang menolak tindakan-tindakan maksiat. Paling tidak, itu semua bisa disiasati lewat musyawarah—toh, pasirputih bukan hadir untuk bermaksiat.

Dengan kata lain, ruang-ruang kebudayaan dan aktivisme kita—sebagaimana yang pernah dikatakan Ade Darmawan, Direktur ruangrupa, kepada saya suatu hari—pada dasarnya hidup dan berkembang di rumah-rumah, di lingkungan yang bertetanggaan.

Tentu, saya bukan sedang mencibir masalah perjuangan mempertahankan tanah dan rumah, seperti contoh kasus yang terjadi di Rembang atau Lambu—dalam konteks kasus itu, masyarakat mau tak mau harus berontak karena telah terjadi suatu tindakan kekerasan fisik dari aparatus kepada warga yang jelas di depan mata. Sementara, dalam konteks yang lain, kekerabatan sosial yang khas dimiliki masyarakat timur, sangat potensial untuk dikelola demi menghidupkan lagi ruang-ruang itu, yang mana sudah saya tegaskan di awal catatan ini, mereka ada bukan sebagai “ruang alternatif”, tetapi “ruang utama” yang sejak dahulunya telah ada.

Jatiwangi Art Factory, telah melakukannya, menjadikan rumah nenek mereka sebagai ruang utama mereka (dan kemudian, menjadi ruang utama yang sangat berarti bagi warga sekitarnya). Kini, Komunitas pasirputih akan mencoba untuk memulainya.