Tentang Sutradara

Piero Paolo Pasolini (1922-1975), seorang pembuat filem yang juga novelis, esais, penyair, teoritikus, dan terlahir sebagai sutradara baru italia tahun 60-an. Ia dilahirkan di Bologna, sebuah kota yang memiliki kultur pemikiran paling kiri di Italia. Ayahnya seorang letnan tentara Italia, Carlo Alberto, yang di kenal atas penyelamatannya terhadap Benito musolini, tahun 1941 Ia menjadi kepala editor dari majalah Li setaccio ( The Sieve), namun dipecat setelah berbeda pendapat dengan pemimpinnya yang dianggap selaras dengan rezim fasis. Karya-karyanya sangat di pengaruh oleh sutradara Italia periode sebelumnya yakni Bertolucci. Pertama kali masuk dunia filem sebagai penulis skenario  dalam filem Cabira Dalam Malam.
01

Jpeg

03

Jpeg

Tentang Film

Elang dan Burung Gereja adalah filem rakyat jenaka italia. Filem ini menceritakan tentang seorang bapak bernamaTotto dan seorang anak, Ninetto. Filem ini menceritakan perjalanan mereka di pinggiran kota roma. Selama dalam perjalanan mereka bertemu dengan seekor gagak dan terjadi seperti dialog intelektual. Di dalam perjalanan, sang gagak mengutip pernyataan yang berkaitan dengan tokoh kelompok kiri italia, Palmiro Togliati. Dialog bersama sang gagak mendapatkan peristiwa-peristiwa simbolis. Seperti ketika menjadi frsiskan dan berjumpa dengan Santo  Fransiskus dari asisi. Keduanya diminta untuk menguraikan bahasa burung sehingga mereka bisa bahasa burung ketika menyampaikan pesan-pesan tentang cinta dari Tuhan. Kisah perjalanan ini sangat banyak menemukan atau penuh dengan bahasa simbolis dan satir.
05

Filem ini merupakan bagian dari periode pasca neorealisme Italia. Secara visual, filem ini sangat banyak menghadirkan parodi-parodi dari para aktornya dalam merespon mitos dan sejarah. Elang dan Burung Gereja merupakan gaya realism Pasolini yang penuh satir, khususnya terkait dengan usaha mendobrak sakralitas pemikiran dalam sejarah itali.

Diskusi Pasca Pemutaran

Hasil diskusi filem pada Pekan Sinema yang kedua, 26 September 2015 dengan memutar filem berjudul Elang dan Burung Gereja ini sangat beragam. Dari pernyataaan Muhammad Sibawaihi yang akrab dipanggil Siba yang pertama membuka diskusi ini menjelaskan bahwa filem Elang dan Burung Gereja ini merupakan filem yang bagi Pasolini sendiri, merupakan filem favoritnya. Sebab filem ini semacam cerminan dari kehidupan dan cita-cita pribadinya. Dimana ketika filem ini diproduksi, terjadi pergolakan idealisme dan pegangan semua negara di dunia. filem ini juga menceritakan tentang pasca Neorealisme Itali, bagaimana membaca sejarah Itali pada saat itu. Siba sedikit mengaitkan pergolakan antara agama dan politik yang ada dalam filem ini dengan sejarah Indonesia manakala Soeharto merubah sejarah dengan membuat filem tentang komunis yang kejam dan ingin meruntuhkan orang-orang komunis dengan berkedok agama sebagai senjata ampuh. Dibuatlah seolah-olah komunis itu tidak bertuhan dan kejam, yang kemudian militer saat itu menghabisi kaum komunis dengan menggunakan kekuatan agama.

Filem  ini sangat banyak mengandung pesan dan padat seperti wacana baru  tentang kondisi negara Itali saat itu pasca perang dunia kedua. Pasolini menampilkan surealisme, ketika budaya Amerika mendominasi dunia termasuk Itali mulai dari model rambut, berpakaian, bahkan gaya hidup. Di sinilah hebatnya Pasolini menampilkan kultur budaya yang berbeda dan meruntuhkan budaya yang lama pasca perang dunia kedua.

Akan tetapi, Pasolini membuat filem ini sangat ringan dan disajikan dengan komedi. Meskipun demikian, pesan-pesan yang disampaikan sangat padat. Mungkin cara Pasolini memberikan kritik terhadap akulturasi budaya itu dengan gaya komedi ini menjadi point penting dalam menyampaikan kritik. Filem Elang dan Burung Gereja ini juga berbicara tentang bagaimana membaca sejarah dan bahasa filem, sebab memang filem ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan sinema dunia. Filem ini memberikan pemahaman tentang keagamaan, ketika burung gagak bercerita pada Totto dan Ninetto dalam perjalanannya.

06

Ada pendapat dari Muhajirin, ketua Karang Taruna Desa Pemenang Barat pada saat diskusi, “dalam agama islam juga mengajarkan bahwa dalam hidup, kita harus berhijrah karena apabila kita hanya berdiam diri dalam kehidupan kita, tidak akan berubah, karena Tuhan sangat menyukai hambanya yang berusaha.”. Tetapi disisi lain, menurut Gozali, agama juga sering dijadikan sebagai pelarian untuk melindungi diri dari ancaman. Gozali membandingkan antara filem Nazarin karya Luis Bunuel Portales dan filem Elang dan Burung Gereja, dimana kedua filem ini sama-sama menceritakan tentang agama. Banyak hal yang dibicarakan dalam filem ini, seperti membicarakan politik, kapitalis, seni dan budaya dan sosial. Gozali melanjutkan dan memberikan contoh dalam hal perpolitikan yang sering sekali memanfaatkan agama dan institusi agama. Ahmad Rosidi atau yang dipanggil Dhoom juga memberikan pendapatnya tentang bagaimana agama dijadikan alat untuk membuat pengaruh terhadap situasi politik. Misalnya dengan membuat madrasah atau  pondok pesantren. Setelah pada saatnya tiba dan menganggap bahwa sekolah atau pondok pesantren mereka mulai berpengaruh, maka para pemimpin yayasan mencoba mencalonkan dirinya menjadi orang yang nomor satu di wilayah mereka masing-masing.

Selain itu, filem ini juga membicarakan praktek-praktek kapitalis. Salah satunya dalam adegan Totto dan Ninetto menagih hutang kepada keluarga dalam salah satu adegan filem tersebut, dimana Totto ingin menyita tanah dan rumah keluarga tersebut, dan tidak perduli kondisi keluarga tersebut, apakah mereka memiliki sesutau untuk dimakan atau tidak. “Bisnis adalah bisnis..”.

Seorang peserta diskusi bertanya tentang bagaimana kedekatan seni dengan masyarakat, akhirnya membawa diskusi filem ini pada pembahasan tentang seni dan budaya. Diskusi dengan masalah ini dilandaskan pada adegan ketika Totto dan Ninetto menolong segerombolan pemain drama mendorong mobil, sampai di bawah pohon, mereka beristirahat karena kelelahan. Ketika lewat segerombolan orang, para pemain drama ini mempersiapkan dengan tergesa-gesa segala sesuatu untuk pementasan mereka. Ninetto berkata kepada ayahnya, “…Pada tahun 2000 ini masih ada juga ya orang yang melakukan hal seperti ini…” Kita bisa mengambil sebauh statement bahwa seni seringkali berjarak dengan masyarakatnya dan hanya mementingkan dirinya.  Hal ini yang menyebabkan seni di kalangan masyarakat hanya sebagai hiburan. Kritik seperti ini yang Pasolini coba masukkan dalam filem ini. Saya mencoba mengkomparasikan adegan filem tersebut dengan kondisi sekarang. Bahwa sebenarnya kita juga sedang mengalami sebuah masa dimana seni menjadi sesuatu yang berjarak dari masyarakatnya. Dengan demikian masyarakat menganggap bahwa seni itu hanya dimiliki oleh orang yang menggeluti seni itu sendiri atau seniman saja. Hal ini coba ditegasan oleh Siba, bahwa seni saat sekarang ini tidak bisa jauh dari masyarakatnya. Sebab, masih sering dijumpai pada praktek produksi kesenian, seniman jauh dari  realitas dan problem masyarakat.

Lain lagi apa yang disampikan oleh Hadi. Hadi dalam diskusi ini mencoba mendiskusikan tentang tekhnik pengambilan gambar atau sinematografi dalam filem ini. Hadi melihat bagaimana latar belakang Pasolini yang juga sebagai seorang perupa, sangat berpengaruh dalam pengambilan gambar. Gambar-gambar Pasolini sangat penuh dengan wacana dan padat dengan makna. Itu nampak terlihat dalam banyak shot dan adegan. Nah pada masalah adegan,  nampak sekali bagaimana kecerdasan Pasolini menata pemain dari sudut pengambilan yang bagus. Demikian apa yang disampaikan oleh Hadi.

Syamsul Fajri Nurawat atau yang lebih dikenal dengan Djabo menyampaikan pengalaman pribadinya, yang terkait dengan budaya menonton di Lombok, dan menyampaikan sedikit tentang apakah film seperti ELang dan Burung Geraj ini bisa dikonsumsi juga oleh masyarakat. “Ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya sudah pernah nonton filem seperti ini, ketika masuk madrasah saya pun sudah banyak menjelajahi bioskop di Mataram dan di Lombok Timur saat itu.  Nah, ketika Aliyah (setara SMA), bioskop sudah mulai tutup karena kalah bersaing dengan DVD. Hal ini dikarenakan teknologi sudah mulai canggih. Pada tahun 80-an TVRI pernah mengangkat filem-filem seperti ini dan juga sering di putar dalam bioskop di wilayah Mataram seperti Ampenan, tetapi bioskop semua tutup karena rugi. Masyarakat sekarang lebih memilih membeli kaset bajakan ketimbang menonton di bioskop. Tahun 90-an orang-orang masih membayar untuk menonton filem di tempat menonton yang berlokasi di Gomong Mataram dengan memutar video Beta Max (kaset video pita) dengan bayaran 50 Rupiah. Filem Elang dan Burung Gereja ini harus di apresiasi masyarakat karena filem ini sangat banyak membicarakan persoalan kita hari ini. Kita tidak perlu takut ketika dipandang sebelah mata pergerakan menonton kita karena masyarakat akan lebih cepat mengerti tentang wacana yang dalam filem ini, ketimbang orang-orang yang merasa mapan dengan pengetahuannya. itu karena masyarakat masih bersih pemikirannya.

Siba menutup diskusi dengan memberikan sedikit rangkuman dari hasil diskusi, dan memberikan semangat tentang, bahwa apa yang dilakukan dalam Pekan Sinema Komunitas pasirputih ini, adalah tonggak sejarah penting di Lombok. Bahwa pemutaran ini akan menjadi sesuatu, mungkin tidak sekarang, mungkin dalam pemutaran yang ke 100 atau angka ke 101 kali, atau mungkin pada pemutaran yang ke 1000. Yang jelas, apa yang kita lakukan ini, harus tetap kita lakukan. Sebab, perubahan tidak akan datang secara tiba-tiba.
07

Diskusi selesai dan kamipun bubar namun membuat beberapa kelompok untuk membahas soal masing-masing dengan topik yang ditentukan sendiri untuk menyambung obrolan. Ada yang membahas tentang filem Elang dan Burung Gereja dan ada juga yang membicarakan tentang sejaau perpolitikan yang masih hangat.

Malam semakin larut dan kamipun mulai merapikan peralatan.