Catatan Temu Remaja dan Komunitas 2015

Sore tiba tepat 18.00 WITA, kami mempersiapkan beberapa kebutuhan sebagai pendukung kelancaran kegiatan pemutaran Video Jalan Remaja yang sekaligus kami rangkai dengan diskusi seputar remaja. Kegiatan ini kami adakan dalam rangka memperingati Hari Remaja Internasional yang jatuh setiap 12 Agustus. Pada Peringatan Hari Remaja Internasional tahun ini, kami mencoba untuk mengumpulkan dan mendiskusikan persoalan-persoalan yang ada di seputar masyarakat, khususnya persoalan remaja. Isu yang diangkat adalah mengenai Sosial Media. Kegiatan ini dihadiri oleh beberapa sekolah SMA sederajat yang ada di Kabupaten Lombok Utara dan beberapa komunitas yang ada di Pulau Lombok.  Sebelum itu, aku dan teman-temanpun membagi tugas sesuai dengan kebutuhan. Gozali memanggilku, “sudah sore ini, sebaiknya kita bagi tugas dulu supaya bekerja lebih mudah”. Kami pun berkumpul membicarakan hal tersebut, aku sendiri mendapat jatah sebagai koordinator acara tersebut.

02 05 04 03

Ditengah persiapan, Bapak Kongso Sukoco (Ketua Dewan Kesenian Nusa Tenggara Barat) datang dengan sepeda motor. Beberapa kawan panitia menyambutnya dengan bersalaman, dan mempersilahkan beliau ke tenda panitia.

Kumandang adzan Magrib menghantarkan kami istirahat untuk menunaikan ibadah sholat. Aku mengambil inisiatif agar teman-teman saling bergantian untuk sholat, agar persiapan juga berjalan baik.

Untuk finishing, Siba mengecek ulang semua persiapan, aku memperhatikan secara seksama. “Ok, semua sudah sip.” tutur Siba tersenyum. Asyik ngobrol dengan Siba terkait masalah video, datanglah Bapak Dr. Muchsin Mochtar, Lc, MA. Beliau merupakan ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Lombok Utara. Siba mengajak beliau duduk di tempat Gozali dan Mas Kongso ngobrol “Beliau ini Mas Kongso, Ketua Dewan Kesenian NTB” tutur Siba memperkenalkan. Akupun tak mau ketinggalan, aku hampiri mereka dan bersalaman. Ketika salam, Pak Dr. Muchsin sambil tersenyum bertanya kepadaku “Yoh, kapan kamu selesai kuliah?”. “Akan, Pak”, jawabku tersipu malu. Sontak jawabanku mengundang gelak tawa teman-teman yang mendengarnya. Memang bukan suatu hal yang aneh beliau bertanya seperti itu, karena beliau dosenku di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram.

Kedatangan Mas Kongso dan Pak Dr. Muchsin bukan tanpa sebab dan tujuan. Beliau berdua merupakan narasumber kami untuk diskusi pasca pemutaran video nanti. Bahkan untuk diskusi tersebut kami juga mengundang Mbak Nursyda Syam, yang biasa kami sapa Kak Ida.

Kak Ida sendiri adalah ketua dan pendiri Sekolah Alam dan Club Baca Perempuan di Lombok Utara. Informasi yang aku dapat dari Gozali, bahwa Mbak Ida pasti hadir dan masih dalam perjalanan.

06 07

Pemutaran kami lakukan pada pukul 20.00 WITA. Sebelum pemutaran dimulai, aku permaklumkan kepada para narasumber, panitia dan juga peserta berkumpul di Aula untuk santap malam bersama. Jatul memanggil dari dapur umum, tepatnya disebelah tenda kesekretariatan panitia, “Woooooi, makanan sudah siap dan silahkan bawa ke aula“. Beberapa rekan panitia menjawab “Iyaaaaa…!“. Terdengar suara bergumam, “Aduuuuh lapaar…!“, jawab peserta tak mau kalah. Kami kemudian mempersiapkan makanan, dan sekalian makan bersama dengan dua narasumber yang sudah tiba di lokasi, pun bersama para peserta.

Tengah asyik menikmati makan malam, terlihat nyala lampu sepeda motor. “Sepertinya Kak Ida sudah datang, ayo kita sambut”, kata Gozali. Benar saja. Mbak Ida datang bersama suaminya, “Waduh… maaf, Kak Ida terlambat. Ini baru balik dari Bayan”, sapa beliau lembut. “Tidak masalah kak, acaranya juga belum dimulai. Oya, Pak Dr. Muchsin dan Mas Kongso sudah menunggu dan lagi makan malam. Mari kita makan malam dulu”, jawab Gozali dan mempersilahkan masuk ke aula.

08 10 09

Selesai makan malam, peralatan makanpun dirapikan. Acara pemutaran siap dimulai. Aku mengambil pelantang memberikan permakluman. “Hadirin yang kami hormati, sebentar lagi kita akan memutar video jalan remaja. Kami harap supaya kita semua menonton dengan baik, tidak ribut dan tidak asyik sendiri. Selanjutnya untuk memandu jalannya pemutaran kami mohon kesediaan Muhammad Sibawaihi, disilahkan“. Siba menyampaikan kata pengantarnya, “Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh, Selamat Malam dan Salam Sejahtera untuk kita semua. Selamat datang kepada Bapak Kongso Sukoco, Bapak Dr. Mochsin Mochtar dan Mbak Nursida Syam di tempat yang sederhana ini. Agenda kegiatan kita malam ini adalah pemutar Video Jalan Remaja. Jalan Remaja merupakan program yang diinisiasi oleh Kampung Halaman Jogja dalam rangka memperingatan Hari Remaja Internasional. Adapun tema yang diangkat tahun ini oleh Kampung Halaman adalah “Kita Sensitif”. Yang menurut hemat saya, video yang dibuat, berbicara tentang sesuatu yang dianggap sensitif oleh rekan-rekan remaja dan kenapa sesuatu tersebut sensitif. Oleh teman-teman remaja yang ada di Komunitas pasirputih, kemudian membuat karya video dengan judul Sensitif Media Sosial. Video ini berbicara seputar media sosial, baik positif maupun negaitfnya. Dalam video ini menghadirkan para pakar yaitu, Mbak Nursyda Syam (pendiri Sekolah Alam dan Club Baca Perempuan) dan Bapak Sinar Sugiarno (Kepala Dihubkominfo Kabupaten Lombok Utara). Kemudian, kita akan putar juga beberapa video yang lain, dengan tema seputar permasalahan remaja dan isu-isu sensitif. Baru setelah itu kita akan berdiskusi mengenai pengalaman bermedia saat ini, serta masalah-masalah atau problematika yang dihadapi remaja. Diskusi tersebut nantinya akan dipandu oleh saudara saya Dammata Samena dari Komunitas Kearifan Lokal Tebango. Baiklah, mari kita saksikan bersama-sama dan selamat menyaksikan!“.

Akupun mulai mencari posisi duduk yang nyaman, karena sebelumnya aku duduk dibelakang layar (screen). Terlihat penonton begitu khusyuk memperhatikan setiap adegan dan dialog yang ada dalam video. Bukan hanya peserta temu remaja dan komunitas yang hadir, namun banyak juga dari warga sekitar yang datang.

Sesekali tawa menghiasi suasana pemutaran tersebut. Tepuk tangan terdengar riuh, itu menandakan video sudah selesai. Diskusi dimulai. Damma sedikit memberikan tanggapannya tentang media sosial dan masalah remaja. Baru setelah itu, Damma mempersilahkan Mas Kongso sebagai pembicara yang pertama.

Mas Kongso menceritakan pengalamannya bermedia sosial, “Saya menggunakan media sosial nggak terlalu intens, karena pengalaman yang saya dapat mungkin kurang enak. Ada cerita lucu dari teman saya, dia memakai media facebook untuk mencari janda-janda molek berusia 45 tahun atau lebih. Saya juga sempat berteman di facebook dengan seorang laki-laki. Lelaki ini sangat intens menanyakan kabar saya. Bahkan, dia sempat mengirim pesan lewat inbox (kotak masuk) di facebook. Awalnya kami biasa-biasa saja, namun belakangan dia mulai ngelantur. Ternyata, dia itu seorang Gay.” Mas Kongso sendiri tertawa terbahak-bahak dengan ceritanya, yang spontan peserta juga ikut tertawa dengan cerita itu. Sebagai penutup beliau melanjutkan, “Memang hal-hal seperti itu kadang sering terjadi dalam bermedia sosial. Sehingga, kita perlu cerdas dalam menyikapinya. Kesenian menjadi item yang juga penting dalam membangun sikap kritis terhadap dinamika yang terjadi disekitar kita”. Sisi yang diamati oleh Mas Kongso memang, pada segi sosial kultur masyarakat yang terbangun dengan adanya budaya media sosial. Bagaimana media sosial dapat mengaburkan batasan privasi dan sosial masyarakat. Bahkan tidak jarang komunikasi langsung (face to face) juga terganggu.

11

Kesempatan kedua diberikan kepada Bapak Dr. Muchsin Mochtar, beliau mengatakan “Media sosial seperti sebuah pisau kalau digunakan untuk memotong daging atau buah, maka akan bernilai positif, tapi kalau digunakan untuk membunuh atau menyakiti orang lain, maka akan menjadi jahat pisau tersebut. Seperti saat ini, media sosial digunakan dalam berkampanye politik misalnya, itu bagus, selama tidak saling menjelekkan dan menjatuhkan satu sama lain”. Pak Muchsinpun tidak lupa mengajak para peserta untuk bersama-sama memanfaatkan media sosial sebagai salah satu ruang membangun semangat toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Sebenarnya banyak hal juga yang beliau sampaikan, tapi itu yang aku ingat.

Mbak Nursida Syam sendiri lebih memfokuskan pembicaraannya seputar media sosial, pendidikan dan kerja berjejaring. Seperti sepenggal komentar beliau, “Media sosial sangat penting bagi kita dalam keseharian, karena banyak hal penting yang bisa kita dapatkan. Namun, kembali ke diri kita masing-masing, sejauhmana butuhnya kita terhadap media sosial. Saya sangat bersyukur dengan adanya media sosial. Begini, saya bertemu dengan suami saya lewat media sosial. Awalnya saya nggak kenal sama beliau, tapi berkenalan lewat media dan beberapa bulan kami berkomunikasi akhirnya beliau melamar saya”.

“Cieee…”, serontak dari peserta sambil tertawa riang.

Lalu Mbak Ida melanjutkan, “Masih banyak lagi hal positif yang saya dapat. Salah satunya lagi, saya mempublikasikan setiap kegiatan saya seperti Klub Baca Perempuan dan Sekolah Alam. Alhamdulillah, respon dari beberapa orang dan komunitas yang jauh dari kita mengapresiasi kegiatan itu dengan luar biasa. Lalu, ada yang menyumbang buku, jasa kerjasama bahkan ada yang menyumbang tanahnya untuk mendukung kegiatan kami, sangat luar biasa”. Akupun bertepuk tangan semakin semangat mendengarkan. Mbak Idapun melanjutkan, “Karena itu, mari kita manfaatkan media sosial dengan baik. Berbagi informasi penting yang berkaitan dengan pendidikan misalnya, atau untuk membangun kerja berjejaring kita dengan teman-teman di luar. Terkadang Kak Ida temukan di media sosial ada orang-orang yang saling mencaci dan adu domba yang bermuat unsur SARA sehingga menyinggung perasaan orang lain. Itu tolong hindari jauh-jauh. Terima kasih”.

Kak Ida saat bercerita tentang pengalaman bermedianya.

Kak Ida saat bercerita tentang pengalaman bermedianya.

Moderator  mengambil pelantang dan kamipun berdiskusi, “Demikian tadi para narasumber kita memberikan tanggapan mereka. Terima kasih dan tepuk tangan yang meriah” Damma memberikan semangat. “Serasa tidak cukup kalau kita juga tidak mendengar pengalaman teman-teman. Sekarang kita tidak bisa lepas dari yang namanya internet, HP atau gedget, dan saya sepakat bahwa yang pertama dicari ketika kita bangun dari tidur adalah HP atau gedget, kita sepakat yaaaaa? Baik, dari teman-teman ada yang mau bertanya atau berbagi pengalaman?” tambah Damma sambil mengamati sekitar. Aku langsung mengangkat tangan dan diberikan kesempatan pertama. Aku bilang, “Aku nggak setuju kalau bangun tidur yang pertama dicari adalah HP atau gedget”. Lalu moderator bertanya, “Kenapa?”. “Karena bukan HP yang aku cari pertama, tapi bantal” jawabku. Dia bertanya lagi untuk memastikan, “kenapa?”. Akupun menjawab dengan sedikit bersemangat dan suara agak kecil, “Iya aku cari bantal dulu, karena HP-ku ada di bawah bantal”. “Hahahaaa“ orang-orang tertawa mendengar penuturanku, narasumber pun terpingkal-pingkal sampai keluar dari aula.

Banyak pertanyaan yang dilontarkan peserta mengenai media sosial mulai dari pemanfaatan, penanggulangan dan sampai cara menghindari berita buruknya.

13 14 15

Moderator menutup diskusi karena semua pertanyaan sudah terjawab dan sudah agak larut malam. Diskusi selesai sekitar 22.37 WITA, beberapa peserta juga ada yang sudah tidak tahan karena ngantuk. Setelah bersalaman dengan narasumber kemudian kami ke sesi foto bareng yang posisinya tepat di tengah-tengah halaman barisan tenda-tenda kami.