Suara adzan terdengar begitu keras namun syahdu, menandakan waktu solat asar telah tiba. Anak-anak kecil masih asyik berlarian, tak mau meninggalkan permainannya. Di balik pintu rumah, terdengar suara memberi komando kepada salah seorang anak agar cepat meninggalkan permainannya, dan  bergegas melaksanakan solat.

“Bagus! Bagus! Ooo … Bagus! Bareh maen ampok,  sembahyang juluk ito!” (Bagus! Bagus! Ooo Bagus! Ntar main lagi, sholat dulu sana!)

“Gih!”,jawab Bagus. Namun tak juga dia bergegas, malah semakin merapat  kepada temannya.

Entah apa yang Bagus rencanakan bersama teman-temannya. Karena jarak saya yang agak jauh, membuat telinga saya tidak bisa menangkap apa yang mereka bicarakan. Di ujung pembicaraannya, dengan nada yang agak keras, Bagus bicara sambil merapat ke pintu rumah, “bareng-bareng tan ta lampak, goak Esa kanca bak beak lain-lain nu!” (Ntar sama-sama kita jalan. Panggil Esa dan teman-teman yang lainnya juga!)

“Bak mbe Gus?” (Mau kemana Gus), kata saya spontan.

Nonton tau lomba mangkek”, (Nonton orang lomba Mangkek).

“Lek mbe?” (Dimana?).

“Lek Karang  Montong”, ( Di Karang Montong).

Bagus pun berangkat seusai Salat Asar bersama teman-temannya. Melihat mereka yang berjalan beriringan sambil bercerita tentang perlombaan yang ditonton kemarin, membuat saya ingin langsung menyaksikan perlombaan itu. Mungkin menarik.  Dikarenakan permainan ‘Mangkek’ itu sendiri adalah permainan tradisonal yang sangat jarang bisa kita jumpai pada saat ini, khususnya di daerahku, Pemenang.
01 02 03

Dengan banyaknya bermunculan permainan-permainan modern seperti  Playstation, Dingdong, Game Wacth dan yang lainnya, membuat permainan ini bergeser dan jarang diminati. Selain itu, para ‘Pemangkek’ Senior juga  hampir tidak pernah mengadakan pertandingan. Entah apa yang kali ini membuat permainan ini kembali  muncul. Sebenarnya aku sudah tahu. Jawabannya adalah, karena dekat dengan Pilkada Kabupaten Lombok Utara.
04

Poster kandidat yang mencalonkan diri menjadi Bupati dan  wakilnya terpampang jelas saat kita akan melewati gerbang untuk memasuki lapangan pertandingan. Selain itu  di sela-sela istirahat komentator selalu mengingatkan bahwa pertandingan ‘Mangkek’ yang dinikmati oleh masyarakat saat ini di selenggarakan oleh salah satu kandidat yang akan maju di pemilihan Bupati. Komentator sesekali tanpa rasa canggung mengeluarkan kata-kata ajakan atau himbauan kepada masyarakat, agar  mencoblos kandidit yang telah menyelenggarakan pertandingan. Sejenak keluar dari apapun tujuan para politisi ni, di pojok sebelah utara  lapangan, dengan semangat yang membara untuk memenangkan pertandingan. Para pemain dari Dusun Karang Petak bertukar gasing. Si Gendut yang tadi menyajikan putaran gangsing yang dahsyat, pada babak selanjutnya tidak mampu memberikan perlawanan yang berarti. Gasing yang ia putar hanya bergelinding kearah penonton. Penonton tertawa menyaksikan apa yang sudah mereka lihat, pemandu pertandingan bersorak dan Si Gendut tersenyum malu ke arah kelompoknya. Pertandingan kembali tegang saat suara-suara gangsing berbenturan dengan keras. Sayang, karena terlambat datang saya tidak kebagian tempat yang baik. Saya melihat pertandingan dari celah-celah pagar tubuh manusia di depan saya. Sapuq(ikat kepala) kereng (sarung) yang melingkar di pinggang para pemain  menjadikan perlombaan ‘Mangkek’ ini menjadi hangat, asyik ditonton. Dua dusun yang  bertanding sore itu adalah Dusun Karang Petak melawan Dusun Rangsot. Permainan menjadi tambah hangat ketika penyiar semakin lihai mengeluarkan kata-kata kocak, yang membuat para penonton tidak bisa menahan tawa. Sorak ramai dan tepuk tangan selalu terulang ketika para Pemangkek mengeluarkan gaya dan triknya masing-masing. Apalagi salah seorang andalan tim Rangsot yang dijuluki oleh penyiar dengan julukan ‘Pelebur Sakti’, selalu menjadi sorotan penonton, baik karena gayanya ataupun caranya mematikan perlawanan musuh.
05 06 07

Karena sorak-sorai penonton semakin seru, kaki saya bergerak sendiri semakin kedepan, berbaur dengan penonton-penonton yang lainnya . Kamera yang saya bawa dari rumah menjadi ‘sosok’ yang tidak mau ketinggalan menonton. Ini membuat saya harus bergerak cekatan, agar setiap moment tidak terlewatkan, dan terabadikan dalam  bingkai kamera .

Sesekali, permainan dihentikan beberapa menit untuk mengganti gasing. Terlihat para pemain sibuk membasahi alit (tali untuk memutar gasing) dengan air yang ada dipojok lapangan. Membasahi alit dengan air ini berfungsi agar gasing tidak mudah lepas, sehingga puataran gasing menjadi semakin keras. Ketika semua selesai dilakukan, para pemain langsung  merapat mendiskusukan strategi apa yang akan dipakai.
08 11 10 09

Pertandingan kembali dimulai. Mata dan perhatain penonton kembali berpusat ke tengah-tengah lapangan pertandingan. Sebagai tim dengan nilai lebih rendah, tim dari Dusun Karang Petak terus saja ‘ngentan’  atau menyajikan putaran gangsing bagi tim dari Dusun Rangsot. Memang, aturan bermain gasing di daerahku seperti ini. Tim yang nilainya lebih rendah akam tetap mendapatkan kesempatan memutar gasing. Semantara yang unggul akan memukul gasing lawannya. Tim Rangsot  selalu memukul gasing lawan dengan sekuat tenaga. Sampai-sampai suara gasing yang terbentur sangt jelas terdengar. Pertandingan berkahir dengan keunggulan tim Dusun Rangsot ,  dengan skor 3-1.
12 13

Semoga pertandingan-pertandingan tradisional seperti ini terus diadakan setiap tahun. Dengan begitu kita bisa lebih dengan dengan tradisi dan budaya kita. Jangan sampai pertandingan-pertandingan seperti ini diadakan ketika menjelang  pemilihan bupati atau sejenisnya.