Manusia adalah makhluk sosial yang selalu bergantung dan tak bisa hidup tanpa adanya orang lain. Interaksi dan tindakan akan timbul dari kebiasaan berkomunikasi dengan lingkungan. Melihat dari sejarah manusia ada di bumi, bermula dari dua manusia yaitu Adam dan Hawa, tetapi dalam teori Darwin mengatakan manusia berasal dari kera, kemudian menjadi tubuh berjalan tegak.

01

Pada awal mulanya, tulisan yang digunakan merupakan gambar sederhana yang merepresentasikan suatu objek maupun pekerjaan. Gambar yang digunakan merupakan gambar sederhana yang dimengerti oleh para penduduk sekitar pada masa itu. Tulisan jenis ini disebut dengan piktograf. Salah satu jenis piktograf yang kita kenal adalah Hieroglyph dari Mesir. Tulisan ini telah ada sejak 3000 tahun SM dan biasanya ditulis pada lembaran daun papyrus maupun dipahat pada batu.

Tahun 400 SM, bangsa Yunani mulai memperkenalkan sistem huruf yang menggantikan jenis piktograf. Huruf ini tidak lagi mewakili hanya sebuah objek maupun bentuk pekerjaan, melainkan mewakili suku kata. Pada sekitar tahun 114 SM, bangsa Romawi menyempurnakan huruf yang digunakan oleh Yunani sehingga menjadi cikal bakal huruf alfabet yang digunakan sekarang.

Tidak hanya itu saja, di belahan bumi yang lain, jenis tulisan lain pun berkembang. Lembah Mesopotamia, Baghdad, dunia arab, sampai daratan Tiongkok pun mengembangkan karakteristik tulisannya masing-masing. Dan salah satu momentum persebaran tulisan di dunia adalah dengan ditemukannya mesin cetak oleh Johannes Gutenberg pada tahun 1439. Dengan ditemukannya mesin cetak tersebut, persebaran informasi menjadi lebih mudah karena dapat diperbanyak dalam waktu yang singkat. Dari tulisan-tulisan yang telah dihasilkan oleh manusia maka sampailah kita pada budaya serta kehidupan yang terbentuk dari warisan tulisan para pendahulu.

02

Dalam sejarahnya, manusia mula-mula tidak tinggal menetap, tetapi mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Manusia mencari makan dari alam sekitarnya. Pada perkembangan berikutnya, manusia mulai menetap dengan mata pencaharian utama, yakni bertani.

Dalam pengembarannya tersebut, manusia memperoleh pengalaman bahwa bila mereka memberi tanda pada sebuah batu, pohon, papan, lempengan serta bahan lainnya, ternyata manusia dapat menyampaikan berita (pesan) kepada manusia lainnya. Pesan ini dipahatkan pada batu, pohon, serta bahan lainnya yang bisa ditulisi. Sebelum mengenal tulisan, manusia berhubungan dengan manusia lainnya melalui bahasa lisan ataupun bahasa isyarat. Setelah menggunakan berbagai tanda yang dipahatkan kepada pohon, batu, ataupun benda lainnya, manusia mulai berkomunikasi dengan manusia lain melalui bahasa tulisan.

03

Dari segi lain, tanda ataupun tulisan yang dipahatkan pada pohon, batu, dan benda lainnya dapat digunakan sebagai catatan mengenai apa yang dikatakan manusia maupun apa yang perlu diketahui seseorang. Tulisan tersebut dapat membantu daya ingat manusia, karena kini manusia dapat melihat catatan. Pesan dalam berbagai pahatan tersebut dapat diteruskan dan diwariskan kepada generasi berikutnya maupun kepada suku lainnya.

04

Dapat disimpulkan bahwa manusia menulis karena desakan pengalamannya dan kebutuhan untuk berbagi. Sebelum mengenal tulisan, manusia berbahasa dengan menggunakan bahasa lisan dan isyarat. Bahasa tulis digunakan sebagai alat komunikasi dan pewarisan pengetahuan dari generasi ke generasi.

Pertanyaannya adalah, apakah berhitung harus dimulai dari angka 1? Apakah ini adalah bentuk kesepakatan yang tidak boleh diubah? Apakah kemudian berhitung tanpa memulai dari angka 1 adalah hal yang salah?

Dari pertanyaan tersebut, dapat timbul bermacam-macam asumsi. Saya melihat hal ini sebagai bentuk sugesti yang menjebak perkembangan. Misalnya seperti 1+1=2, apakah boleh kita mengatakan 1+1=8 atau 5…?

Terlepas dari hitung-hitungan, sehubungan dengan keberadaan media saat ini, kita dituntut untuk menggunakannya semaksimal mungkin sesuai dengan kebutuhan.

05

Seperti yang dilakukan pasirputih dengan menyelenggarakan kegiatan lokakarya literasi media bekerjasama dengan Berugaq Pictures yang dilaksanakan di Ruang Multimedia, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, IAIN Mataram, dari tanggal 9 hingga 16 Maret, 2015, berbicara tentang sejarah media yang sangat jauh-jauh zaman telah muncul sebelum masa kita saat ini (orang-orang yang menemukan media mulai dari tanda kemudian berkembang menjadi saat sekarang ini). Saat saya mendengar diskusi pada lokakarya tersebut, kemudian mencoba membayangkan kehidupan masa lalu di mana manusia-manusianya pasti sangat bekerja keras, saya memetik poin-poin penting tentang sesuatu disepakati oleh banyak pakar sebagai salah satu penemuan penting yang diwariskan untuk kita, yakni kamera.

Namun, sebagaimana kata Muhammad Sibawaihi, “Kamera yang ditemukan dengan susah payah itu kemudian kita akan apakan hari ini? Sesekali kita harus melihat ‘realitas’ di layar kamera kita.”

Saya rasa, pendapat itu sangat benar dan terjadi saat ini. Kamera yang umumnya kita hadapi pada masa sekarang, sering kali menciptakan realitas dengan mengedepankan hal-hal yang berlebih-lebihan dan itu bahkan tidak mendidik, seakan dibuat-buat hanya semata-mata untuk kepentingan hiburan dan kerap menutup-nutupi kesalahan diri (kita bisa mengambil contoh hasil kamera yang tayang sebagai program acara-acara TV masa kini).

06 07

Saya menilai media-media mainstream (arus utama), seperti yang kita lihat hari ini, sangat mengkhawatirkan. Penyuguhan sinetron-sinetron yang ceritanya itu-itu saja, dengan berita-berita yang disuguhkan pun, sangat terlihat mau menang sendiri. Seperti para pemilik stasiun televisi, misalnya, transparan kata mereka, tapi kenyataannya banyak hal yang ditutu-tutupi demi pencitraan.

Nah, media alternatif sangat memiliki peluang penting bagi permediaan hari ini. “Komunitas”, dalam konteks ini, adalah salah satu “media alternatif” yang berusaha menjauhkan diri dari intervensi politik atau sejenisnya. Akan tetapi, kami sepakat bahwa kualitas sebuah komunitas itu bergantung dari karakteristik penggeraknya, yaitu mau pilih yang mana ber-mainstream atau berusaha menjadi komunitas yang berkarya dengan hasil yang edukatif, informatif dan transparan.

Cuplikan dalam film Vittorido De Sica, "Bicycle Thief".

Cuplikan dalam film Vittorido De Sica, “Bicycle Thief”.

Di hari kedua penyelenggaraan lokakarya, kami tidak hanya membicarakan sejarah media dan perkembangannya, tetapi kami juga menyaksikan bersama-sama sebuah film Karya Vittorio de Sica yang berjudul Ladri De Biceclette atau Pencuri Sepeda (1948).

Sedikit gambaran tentang Pencuri Sepeda, film ini menggambarkan negara Italia pasca Perang Dunia II. Hiruk pikuk kehidupan di Italia saat itu mengalami keterpurukan yang sangat menyengsarakan rakyatnya, sehingga pencurian menjadi hal yang sering terjadi. Keterbatasan lapangan kerja adalah salah satu penyebab hal itu terjadi. Ricci, tokoh di dalam film itu, adalah salah satu orang yang mendapat dan merasakan hal yang sangat buruk sebagai dampak dari kondisi masa itu. Instansi di tempatnya bekerja yang mengharuskannya untuk menggunakan sepeda sebagai penunjang kerjanya dan dia mengalami nasib buruk saat sepedanya dicuri.

Setelah penayangan film selesai, kami melanjutkannya dengan diskusi mengenai film tersebut sebagai penambah pengetahuan terhadap film.

Saya lantas keluar sebentar untuk beli gorengan. Di jalan hujan, namun tak begitu lebat, tapi cukup untuk berbasah-basahan. Bersama teman-teman BP mendapatkan pengetahuan baru  tentang filem maka muncullah bayangan-bayangan baru tentang perfileman.

Berkembanglah komunitas! Bermutulah perfileman Indonesia!

__________________

Referensi:

http://sidansananda.blogspot.com/2012/11/sejarah-manusia-mengenal-tulisan.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Piktogram

Foto: Google Image